Mengintip hari pertama di BCA IKF VII

0
274
bca ikf vii featured image - kadungcampur

Mengintip hari pertama di BCA IKF VII – Indonesia Knowledge Forum (atau kadang saya suka singkat jadi BCA IKF) kembali digelar di tahun 2018. Seperti tahun sebelumnya, acara yang diselenggarakan oleh BCA Learning Service ini, digelar selama 2 hari, tepatnya tanggal 9 – 10 Oktober 2018 lalu. Kali ini BCA IKF VII mengusung tema ‘Fostering Innovation and Creating Value Through Digital Transformation,’ yang kalau dilihat-lihat masih bersambungan dengan tema tahun sebelumnya yang berkaitan dengan digital disruption di Indonesia.

bca ikf 7 2018 timo wp - kadungcampur
Akhirnya bisa ikutan Indonesia Knowledge Forum. Tahun ini merupakan BCA IKF VII 🙂 

Apa itu Indonesia Knowledge Forum?

Indonesia Knowledge Forum dibuat untuk menjadi ajang pertukaran ide, inovasi, dan kreativitas agar kita serta para pelaku usaha bisa mampu berkembang di tengah maraknya teknologi belakangan ini, alias gempuran disrupsi digital di Indonesia.

Selama dua hari, Indonesia Knowledge Forum menghadirkan banyak pembicara menarik yang memang udah ahli di bidangnya masing-masing. Contohnya di hari pertama ada pengamat ekonomi, Anton Hermanto Gunawan dan Presiden Direktur Blue Bird, Noni Purnomo, serta pembicara lainnya. Tentunya ada lebih banyak pembicara menarik di hari ke-dua karena berlangsung full day dari pagi hingga sore dengan tema beragam, seperti tentang wealh management, business strategy, customer engagement, hingga customer service. Tentunya semuanya dikaitkan dengan teknologi, seperti AI chatbot di tema customer service.

Ga perlu khawatir ketinggalan informasi dari slide yang dipaparkan oleh para pembicara, karena hampir semua slide dari pembicara bisa kita download dari aplikasi IKF yang tersedia di Android dan iOs. Saya aja yang hanya hadir di hari pertama, bisa download materi pembicara di hari ke-2 lho hehe. Lumayan kan dapat ilmunya ?

Nah, selain ada sharing dari para pembicara, di BCA IKF VII juga ada expo dari para tenant-tenant yang menarik. Selain dari BCA sendiri, juga ada booth dari iBox, Asuransi AIA, pameran batik dari Desa Batik Sumilir (salah satu desa binaan BCA), dan masih banyak lagi. Waktu itu ada beberapa promo menarik sih dari iBox hehe, tentunya kalau bayar pakai produk BCA, ya ?

bca ikf 7 2018 expo apple booth 2 - kadungcampur
Promo menarik di booth iBox saat BCA IKF VII
bca ikf 7 2018 expo batik desa binaan batik gemah sumilir 3 - kadungcampur
Ada juga booth batik dari desa binaan BCA nih 🙂 

Pentingnya transformasi digital untuk perusahaan konvensional

Pak Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur BCA, membuka BCA IKF VII dengan pidato yang keren banget.

Titik beratnya tentu di area digital transformation, karena beliau merasa ini sangat penting untuk dilakukan oleh para perusahaan konvensional, biar ga ketinggalan jaman. Nanti kalau ketinggalan jaman, bisa kena seleksi alam deh, ya. Ini bisa kita lihat dalam hal customer service aja deh, ya.

Tadi udah saya sebutkan kalau di hari ke-dua ada yang namanya AI chatbot untuk customer service. Sepertinya udah banyak banget perusahaan yang mengarah chatbot, untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Tentunya kita ga mau dong ya kalau lagi tanya customer service terus dicuekin hehe. Oleh karena itu, masuklah fungsi chatbot di sini, tapi biasanya akan tetap di back up oleh customer service yang orang beneran, kalau ada hal-hal yang udah spesifik.

bca ikf 7 2018 speaker anton hermanto gunawan economist - kadungcampur
Juga hadir pengamat ekonomi, Pak Anton Hermanto Gunawan

BCA di dunia digital

Sebagai penyelenggara IKF VII, tentunya BCA juga udah mulai masuk ke dunia digital, termasuk salah satunya adalah di customer service. Mungkin kamu udah mengenal yang namanya Vira? Vira ini merupakan virtual assistant dari BCA, dan udah bisa diakses di Facebook Messenger, Kaskus Chat, Line, dan juga Google Assistant.

customer service virtual bca vira - kadungcampur
Virtual assistant BCA – VIRA 

BCA juga udah punya e-branch BCA. Bentukannya ga seperti cabang BCA konvensional, dan biasanya ada di mall nih, seperti kalau saya perhatiin ada di Gandaria City dan Bintaro Xchange. Saya pernah nih buka rekening tabungan BCA Xpresi di cabang Gandaria City. Yang beda dengan e-branch, biasanya ga ada tuh yang namanya meja customer service dan teller. Kalau mau buka rekening tabungan, kita akan masuk ke satu ruangan, yang mana akan disambungkan dengan customer service BCA melalui video call. Prosesnya cepat lah, dan langsung jadi juga hehe.

Selain Vira dan e-branch, BCA juga punya alat pembayaran elektronik, yang namanya Sakuku. Sakuku itu mirip Go-Pay lah, kita tinggal top up aja, dan bisa langsung digunakan sebagai alat pembayaran kok. Dan biasanya suka ada promo sih, terutama di acara-acara BCA, seperti BCA Expo 2018 yang barusan terselenggara di ICE BSD hehe. Saya bisa dapat diskon mulai dari 20 – 25% lho!

Sukses di dunia teknologi

Akhir-akhir ini bisa kita lihat deh ya, banyak banget produk-produk baru hasil dari para startup atau perusahaan teknologi yang bermunculan. Kalau misalnya saya lihat dari slide yang udah disiapkan pak Anton Hermanto Gunawan, jumlah fintech antara tahun 2017 – 2018 dibandingkan dengan tahun 2015 – 2016 udah mengalami peningkatan, yaitu dari 165 menjadi 235 fintech companies. Masih dari slide pak Anton tersebut, kalau dilhat dari jenis perusahaan fintech aja udah ada banyak macam, mulai dari payment – seperti Sakuku, lending, personal finance, insurtech, POS system, dan banyak lainnya. Tentunya payment dan lending menempati posisi pertama dan ke-dua.

bca ikf 7 2018 speaker anton hermanto gunawan economist - kadungcampur
Juga hadir pengamat ekonomi, Pak Anton Hermanto Gunawan

Ada begitu banyak perusahaan startup dan fintech. Terlihat keren memang, tetapi sebenarnya mereka juga lagi saling bersaing, ga hanya bersaing dengan perusahaan konvensional. Mana perusahaan yang bisa memberikan terbaik, tentunya bisa lebih unggul.

Pak Jahja juga sempat memberikan tips agar bisa sukses dalam menjalankan startup.

1 | Harus ada yang back-up secara finansial

Kalau dilihat-lihat era transportasi online dulu, ada Uber, Grab, dan Go-Jek. Semua saling berlomba untuk menarik customer menggunakan jasa transportasi online-nya. Yang satu memberikan promo ini, yang satu promo itu, dan seterusnya. Pastinya yang diuntungkan adalah penggunanya lah ya hehe. Namun agar perusahaannya kuat lahir dan batin menghadapi persaingan promosi gila-gilaan, ya harus kuat secara finansial. Inilah kenapa selanjutnya, perusahaan tersebut harus punya pendanaan yang bisa support promosi. Promosi di sini maksudnya perusahaan tersebut ‘burning money’, ya.

Promosi itu penting. Walaupun sebuah perusahaan punya produk yang bagus, tapi minim promosi, alhasil ya orang-orang pada kurang ngeh dong kalau ada produk itu.

2 | Produk harus user-friendly

Hmm, penasaran sih, berapa banyak orang yang masih baca buku ‘user’s manual’ ketika baru beli barang? Hehe. Saya termasuk yang jarang sih, karena udah keburu penasaran. Jadi langsung coba aja. Kalau mentok, baru deh baca-baca atau googling atau ya tanya temen yang udah punya produknya hehe.

Maka dari itu, penting banget kita create produk yang orang bisa langsung pakai. Walau memang ada proses adaptasi, tapi proses itu kudu berlangsung cepat. Takutnya kalau mau pake produk aja udah keburu riweuh, yang ada malah sekip, dan ganti produk lain deh.

3 | Dapat dipercaya

Belanja online itu beda sih ya dengan belanja yang langsung datang ke toko. Kalau belanja di toko, kita bisa pegang dan rasakan barangnya, sedangkan kalau belanja online, salah satu hal yang bisa diandalkan pembeli adalah review dari pelanggan lainnya. Itu sih yang saya lakukan ketika membeli hape di salah satu merchant di toko online. Itu pun saya juga sempet tanya-tanya temen tentang pengalaman mereke beli barang elektronik secara online.

Itu lah kenapa, agar pembeli atau user ga was-was, kita harus dapat dipercaya. Makanya agar orang-orang semakin percaya, ada toko online yang memberikan label ‘Dijamin ORI!’

4 | Harus bisa create critical mass

Awalnya saya kurang ngerti apa nih maksudnya critical mass? Ternyata ga ada hubungan dengan membuat produk massal hehe. Ini hubungannya lebih ke kemandirian sebuah perusahaan yang sedang berkembang.

Kalau saya kutip dari Investopedia:

Critical mass is the point at which a growing company becomes self-sustaining, and no longer needs additional investment to remain economically viable.’

Bagaimana sebuah perusahaan mencapai titik ga butuh lagi bantuan atau pendanaan dari luar untuk beroperasi. Tentunya kalau mau expansi lagi, atau menjalankan strategi yang lain, udah berbicara hal yang beda ya hehe.

Good bye BCA IKF VII and see you di BCA IKF VIII

Menarik kan ya opening speech dari Pak Jahja ini. Line up dari para pembicara BCA IKF VII pun juga menyenangkan. Pasti banyak ilmu yang bisa diserap, setelah seharian nongkrong di BCA IKF VII. Sayangnya saya hanya sempat ikut di hari pertama. Mudah-mudahan nanti di IKF VIII saya sempat ikutan di hari ke-dua. Ya udah yuk, sama-sama nanti kita datang ya tahun depan ke BCA IKF VIII ?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here