Bekerja bersama #UbahJakarta dengan menggunakan transportasi publik

Author: | Posted in Lomba 33 Comments

Setiap melewati jalan Sudirman – Thamrin di Jakarta, saya selalu bergumam ke diri sendiri kalau sebentar lagi kita akan memiliki MRT (Mass Rapid Transit)! Memang kalau dibandingkan dengan negara tetangga kita, Singapura, kita termasuk yang belakangan mempunyai MRT, tapi lebih baik ada sekarang, daripada tidak sama sekali, ‘kan?

Proyek MRT Jakarta yang sudah dimulai sejak 10 Oktober 2013 ini, sudah mencapai 78% per akhir Agustus 2017. Targetnya akan selesai dan siap beroperasi pada bulan Maret 2019. Apabila semua sudah selesai, berarti proyek MRT Jakarta ini akan memiliki total 13 stasiun, yang terdiri dari 7 stasiun layang, dan 6 stasiun MRT bawah tanah. Ke-13 stasiun ini akan terbentang dari area Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia.

transportasi publik mrt jakarta stasiun bundaran hotel indonesia

proyek MRT stasiun Bundaran Hotel Indonesia di Jalan Thamrin, Jakarta

Setelah selesai, memang diharapkan proyek MRT Jakarta ini akan bisa mengurangi kepadatan lalu lintas kota Jakarta. Tentunya proyek ini akan menjadi alternatif utama untuk orang-orang untuk bepergian dari satu titik ke titik lainnya di dalam kota Jakarta hingga daerah sekitar Jakarta. Namun, tentunya ini semua tidak akan bisa berhasil, kalau belum ada kesadaran dari kita semua untuk bekerja bersama #UbahJakarta dengan menggunakan transportasi publik.

Saya dan transportasi publik

Kalau ditanya apakah saya bisa menyetir mobil? Saya akan jawab bisa. Namun kalau pertanyaannya diganti menjadi ‘apakah saya menggunakan mobil untuk bepergian di dalam kota?’, saya akan bilang kalau saat ini saya kurang suka menggunakan mobil. Bahkan saya termasuk orang yang malas menyetir mobil, terutama malas kalau ketemu macet.

Makanya saya sudah mulai mengubah gaya bepergian saya di dalam kota dengan menggunakan transportasi publik. Dibilang ‘di dalam kota’ sebenarnya agak kurang benar, karena saya tinggal di Tangerang Selatan, jadi ada yang bilang kalau saya pergi ke Jakarta, itu sama saja dengan pergi keluar kota hehe.

Dulu waktu saya kerja di daerah Thamrin, Jakarta, saya sudah terbiasa menggunakan KRL Commuter Line pada saat pergi dan pulang dari kantor. Dimulai dari stasiun terdekat di daerah Bintaro, menuju stasiun Tanah Abang, kemudian dilanjutkan dengan naik ojek atau bis Damri. Dulu mungkin kita masih merasakan naik kereta ekonomi yang tanpa pendingin udara, dan masih banyak pedagang serta pengamen yang hilir mudik di dalam gerbong. Namun itu dulu, dan sekarang sudah berubah menjadi lebih nyaman, apalagi sekarang semuanya sudah delapan gerbong. Tentu kamu masih ingat ketika waktu dulu menunggu KRL dan yang tiba di stasiun adalah kereta yang hanya enam gerbong hehe.

transportasi publik commuter line jakarta

Kereta Commuter Line di stasiun Palmerah, Jakarta

Bagaimana dengan sekarang?

Sekarang saya tetap setia menggunakan Commuter Line sebagai pilihan utama untuk ‘keluar’ dari area Bintaro menuju Jakarta. Biasanya moda transportasi yang saya sering gunakan adalah kombinasi antara Commuter Line dengan ojek, karena saya malas berlama-lama di jalan, dan biar cepat sampai tempat tujuan hehe. Soalnya dengan menggunakan Commuter Line, waktu tempuh saya untuk menuju Jakarta bisa lebih singkat dibandingkan kalau harus menyetir sendiri, apalagi saat pagi hari. Di pagi hari, saat jam sibuk ketika orang berangkat ke kantor, dengan menggunakan Commuter Line dari arah Bintaro menuju Tanah Abang, hanya memakan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam.

Pengalaman menggunakan transportasi publik di luar negeri

Saya pernah mendapat kesempatan untuk tinggal di Singapura sekitar 1 tahun pada tahun 2009 – 2010. Apa yang saya senang dengan Singapura? Transportasi publiknya! Selama saya di Singapura, kalau bepergian, saya selalu menggunakan bis, MRT, LRT (Light Rail Transit), dan bahkan berjalan kaki. Transportasi publiknya sangat mudah dan terkoneksi hingga ke daerah yang ‘lebih dalam’ lagi. Apabila saya kurang mengerti rutenya, saya tinggal mencari di internet yang sudah lengkap informasi mengenai rute yang harus saya tempuh, dan beberapa alternatif moda transportasi yang bisa saya gunakan.

Singapura saat itu baru memiliki tiga jalur MRT, mulai dari North South (NS) Line, East West (EW) Line, dan North East (NE) Line. Bagaimana bisa dengan hanya 3 jurusan saja, tapi bisa mencapai ke daerah perumahan yang ‘lebih dalam’ lagi? Itu karena di beberapa stasiun MRT, sudah disambung lagi dengan transportasi LRT yang melintas hingga ke dalam area residensial. Konsep LRT mirip dengan MRT, hanya saja, gerbong yang dipakai lebih sedikit, dan jumlah stasiunnya juga sedikit.

transportasi publik mrt singapura

Menggunakan MRT ketika bepergian di Singapura

Setelah tiga jalur MRT, kemudian Singapura menambah satu jalur lagi, bernama ‘Circle Line’, dan akan menambah lagi beberapa jalur hingga tahun 2030, menjadi total delapan jalur MRT. Bandingkan dengan dengan sistem kereta di Hong Kong yang bernama MTR (Mass Transit Railway). Di Hong Kong sudah terdapat 10 jalur MTR, termasuk jalur ke Disneyland, ditambah lagi dengan jalur kereta ke bandara, serta LRT-nya.

Misalnya ditanya bagaimana dengan keamanan dan kebersihan transportasi publiknya? Selama saya di sana, saya merasa aman-aman saja menggunakan transportasi publik, bahkan saat malam hari. Kalau misalnya MRT sudah tidak beroperasi pada malam hari, saya bisa menggunakan bis umum. Tidak ada masalah berarti. Dan kalau tentang kebersihan, sejauh mata memandang, transportasi publik di Singapura termasuk yang bersih.

#UbahJakarta dengan transportasi publik

Kalau membandingkan Jakarta dengan Singapura, kita memang masih jauh, namun seperti yang saya utarakan di awal, lebih baik dimulai sekarang daripada tidak sama sekali. Dimulai dari satu jalur MRT dan kemudian bertambah lagi yang bisa menjangkau daerah lain lagi. Toh, sudah banyak rencana transportasi publik untuk kota tercinta kita ini.

Nantinya MRT akan terhubungkan dengan beberapa moda transportasi publik lainnya, seperti misalnya LRT, Commuter Line, bahkan Trans Jakarta. Contoh salah satu titik transit adalah di Dukuh Atas. Setelah semua terhubung dan beroperasi, nantinya orang yang bepergian dengan MRT dan turun di Dukuh Atas, bisa melanjutkan perjalanannya dengan menggunakan LRT menuju bandara Soekarno Hatta.

mrt jakarta terowongan bawah tanah

Proyek MRT Jakarta bagian terowongan bawah tanah (foto diambil dari Instagram @mrtjkt)

Saya jadi bermimpi nanti ketika semua sarana transportasi publik sudah beroperasi, akan ada banyak alternatif bagi kita untuk bepergian. Pastinya kalau semua jalur kereta, baik MRT, Commuter Line, dan LRT sudah terhubung, akan sangat mudah kita bepergian dan tidak perlu khawatir akan macet. Kita juga tidak perlu khawatir dengan seberapa seringnya MRT akan melintas di setiap stasiun, karena nanti akan disediakan 14 set kereta, dan setiap satu set kereta akan terdapat enam gerbong kereta.

Tentunya untuk mengubah Jakarta tidak bisa hanya satu atau dua orang saja, karena kita semua harus bisa mengubah kebiasaan kita dalam bepergian. Bagaimana menurutmu?

Advertisements
Comments
  1. Posted by Reh Atemalem
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by gita siwi
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by unggulcenter
    • Posted by Timothy W Pawiro
  4. Posted by mbak avy
    • Posted by Timothy W Pawiro
  5. Posted by Andri Mastiyanto
    • Posted by Timothy W Pawiro
  6. Posted by Puspa
    • Posted by Timothy W Pawiro
  7. Posted by Satto Raji
    • Posted by Timothy W Pawiro
  8. Posted by Fawwaz Ibrahim
    • Posted by Timothy W Pawiro
  9. Posted by Idfi pancani
    • Posted by Timothy W Pawiro
  10. Posted by windhu
    • Posted by Timothy W Pawiro
  11. Posted by Wian
    • Posted by Timothy W Pawiro
  12. Posted by Liswanti
    • Posted by Timothy W Pawiro
  13. Posted by kurnia amelia
    • Posted by Timothy W Pawiro
  14. Posted by Ivonie
    • Posted by Timothy W Pawiro
  15. Posted by Atisatya Arifin
    • Posted by Timothy W Pawiro
  16. Posted by Dennise
  17. Posted by Sie-thi Nurjanah
  18. Posted by yayat

Add Your Comment