Review Eye In The Sky: dibalik sebuah keputusan penting

Author: | Posted in Film 2 Comments

Prologue dulu

Sudah sering dengar pesawat drone? Di saat sekarang memang ada beberapa dari kita yang sudah menggunakan drone untuk menerbangkan kameranya ke tempat yang lebih tinggi, sehingga bisa mendapatkan sudut pandang yang lebih luas dan jauh dari atas sana atau bisa juga disebut sebagai aerial view. Di film yang berjudul Eye in the Sky ini, drone juga sudah digunakan untuk melakukan aksi mata – mata (drone surveillance), tentunya dengan bentuk kamera dan lensa super canggih, dengan kemampuan super zoom yang luar biasa. Kalau saya baca – baca dari sebuah website, drone tersebut bisa membaca tulisan di sebuah kotak susu yang berjarak 60,000 kaki (atau lebih dari 18.000 km). Drone untuk kegiatan militer seperti ini, biasanya dikendarai oleh pilot dari jauh atau anggaplah kamu mengendarai mobil – mobilan dengan sebuah remote control. Ada kalanya juga drone ini sudah dipersenjatai oleh misil yang bisa ditembakkan oleh sang pilot dari jarak jauh jika diperlukan.

eye-in-the-sky-reaper-drone

Reaper drone di film Eye in The Sky

Sedikit sinopsis Eye in The Sky

== Spoiler Alert! ==

Helen Mirren yang berperan sebagai Colonel Katherine Powell punya sebuah misi untuk menangkap petinggi dari ekstrimis Al-Shabaab yang melakukan pertemuan di sebuah rumah di Kenya. Misi ini merupakan misi gabungan antara Inggris, Amerika, dan Kenya. Ini bisa dilihat dari beberapa kerjasama yang dilakukan, seperti komando dari Powell sendiri, Pilot Steve Watts yang mengendarai drone, dan beberapa agen Kenya di lapangan yang menggunakan peralatan mata – mata, seperti ‘burung’ dan ‘kumbang’ yang dikendalikan dari jarak dekat.

eye-in-the-sky-helen-mirren-colonel-catherine-powell

Helen Mirren sebagai Kolonel Powell (Eye in The Sky)

Misi pertama adalah untuk menangkap beberapa petinggi Al-Shabaab yang sudah masuk di dalam daftar cari itu. Namun semua itu berubah ketika pada saat diintai, terlihat mereka sedang mempersiapkan rompi beserta bahan peledaknya. Misipun berubah, dari menangkap menjadi mengeliminasi.

Tentunya perubahan misi ini harus disertai dengan perkiraan korban yang akan timbul, ketika misil diluncurkan ke sasaran. Namun, ada satu hal yang ‘mengganggu’ sang pilot drone. Kehadiran seorang anak di dekat rumah yang menjadi sasaran misilnya.

Opini saja

Film ini memang tidak mempertontonkan keahlian beladiri para agen di lapangan, tetapi lebih ke dua hal, yakni keahlian mengintai dengan menggunakan drone (sesuai dengan judulnya ‘Eye in The Sky’), dan apakah yang terjadi dibalik sebuah keputusan perang. Ketegangan yang dibangun pun merupakan ketegangan yang terjadi di antara para petinggi militer dan politik dalam mengambil keputusan, antara keinginan untuk mencoret tersangka di daftar mereka, dan akibat yang ditimbulkan jika anak tersebut meninggal karena serangan misil dari drone mereka. Para petinggi saling melempar keputusan antara yang satu ke yang lain, antara menteri yang satu ke menteri yang lain, sambil melihat sisi legal dari tindakan mereka ini. Alhasil, saya dan Kol. Powell pun terlihat gemes, karena ‘para petinggi’ nampak seperti bertele – tele, padahal dalam hitungan detik, para teroris ini bisa saja pergi.

Dan salah satu hal yang menarik adalah ketika sang pilot, yang menjadi eksekutor,  berani ‘menantang’ Kolonel Powell dan mempertanyakan kembali perkiraan korban (sekaligus untuk menunda), setelah dia melihat ada seorang anak di dekat lokasi sasaran tembak.

eye-in-the-sky-pilot-steve-watts

Sang pilot yang mengendarai Drone (Eye In The Sky)

Tentunya ketika sebuah keputusan sudah diambil, yang merasakan paling dalam akan akibat dari sebuah tindakan ini adalah sang eksekutor. Benar, ngga? Pernah mengalami ini di kehidupan sehari – hari, mungkin di lingkungan kerja? Hehe.

Tonton atau boleh dilewat?

Saya sebagai seorang movie goer yang suka tipe film seperti ini (spy movie, govt agency, dll), tentunya tidak mau melewatkan film ini. Walaupun sepertinya jarang lihat promosi dari film ini, namun cukup dengan melihat sekali saja trailernya, langsung membuat saya tertarik untuk menonton film ini. Plus ada faktor Helen Mirren dan Alan Rickman juga. Ini merupakan film terakhir yang dibintangi Alan Rickman sebelum dia meninggal dunia 🙁

So, kalau kamu memang suka dengan genre dan tipe film seperti ini, jangan sampai melewatkan film Eye in The Sky. Don’t you miss it!

Ini dia trailernya:

Semua gambar diambil dari screen shot trailer ‘Eye in The Sky’, kecuali gambar untuk featured image diambil dari sini.

Advertisements
Comments
  1. Posted by Akhdan Baihaqi
    • Posted by Timothy W Pawiro

Add Your Comment