Kok sukanya pake Uber, sih?

Blog post mengenai Uber, yang merupakan salah satu layanan transportasi online di Indonesia ini, sebenarnya sudah lama terkait di benak saya. Rasanya dari dulu ingin menceritakan bagaimana pengalaman memakai Uber, tapi nampaknya baru sekarang terwujud. Pas juga dengan momen hadirnya layanan UberMotor di ibu kota tercinta kita ini.

Pengalaman memakai Uber di dalam negeri

Ketika muncul layanan Uber, saya termasuk pengguna yang telat mencoba. Jadi, teman saya yang lain sudah mencoba, saya masih belum. Saya masih baru membaca – baca berita mengenai layanan Uber ini. Kemudian akhirnya, saya pun mulai melakukan registrasi Uber dengan menggunakan kartu kredit di smartphone saya, dan kode promo dari teman saya, Lidya. Saya masih ingat, waktu itu pas di acara makan – makan teman saya, sekaligus acara syukuran pernikahan dia.

uber-receipt-1

Sudah lebih murah, dipotong free ride Rp. 75.000 lagi

Pengalaman memakai Uber yang pertama adalah perjalanan dari airport Soekarno Hatta ke rumah saya di sekitaran Bintaro. Ini kalau saya lihat di Trip History, trip ini dilakukan di tanggal 17 Mei 2015. Dan, ketika saya melihat tagihan perjalanan saya, saya jadi kaget dan senang. Walau saya tahu kalau tagihan saya sudah dipotong promo kredit sebesar Rp. 75.000,- dari Lidya, tapi tagihan akhirnya pun membuat saya heran. Wow! Murah banget nget nget nget!! Tagihannya hanya Rp. 21.000,-!! Kenapa saya bisa mengatakan kalau ini murah? Karena harga dari Uber bisa lebih murah hingga separuhnya dibandingkan jika saya menggunakan transportasi lain (di luar transportasi publik, seperti angkot, bus, dan ojek, ya!). Rate Uber yang murah merupakan alasan pertama saya suka memakai Uber. Dan mulai saat itu pun, saya mulai rajin menjadi Uber rider – sebutan untuk penumpang Uber – untuk transportasi ke dan dari bandara. Apabila saya malas menggunakan mobil (saya termasuk orang yang malas menyetir untuk perjalanan di dalam kota), saya juga menggunakan Uber.

Kemudian Uber mulai menjalar ke kota – kota lain, seperti Bandung, Surabaya, dan Bali. Saya bersyukur, ketika saya berada di kota lain, dan membuka aplikasi Uber, sudah nampak mobil – mobil kecil berkeliaran di peta Uber. Misalnya pengalaman memakai Uber di Bandung, saya suka sekali pakai Uber jika saya ke Bandung dari arah Jakarta, menggunakan travel dan turun di Pasteur. Waktu awal – awal sih, memang para pengendara Uber di Bandung, akan berhenti beredar pada jam 1 subuh, tapi nampaknya dulu pernah ada driver yang berkata kalau sekarang sudah 24 jam. Mungkin nanti saya akan coba memastikan lagi ketika di Bandung hehe.

Oh iya, alasan kedua saya memakai Uber adalah saya tidak perlu repot mencari parkir. Ini saya lakukan waktu saya ingin pergi ke Farmhouse Susu Lembang yang terkenal itu, pada saat lagi liburan. Percobaan pertama saya ke sana tidak berhasil, karena antrian kendaraan sudah panjang sampai ke jalan. Percobaan kedua, saya mencoba memakai Uber, karena saya tidak mau repot mencari parkir setelah sampai di sana. Tentunya percobaan yang kedua, berhasil haha! Uber enaknya bisa minta tolong driver-nya untuk menunggu kita (daripada pulang ke Bandung kosong, kan ya?). Kalau misalnya sang driver mau, maka nanti argo yang berjalan adalah argo tunggu. Kalau saya lihat, tarif Uber dari Bandung ke Farmhouse Susu Lembang itu sekitar Rp. 148.500 dikurangi free ride yang saya punya, jadi tarif final sekitar Rp. 73.500. Oh iya, dan total lama perjalanan Bandung ke Lembang + menunggu kami berkeliling Farmhouse Susu Lembang, itu sekitar  3 jam. Kamu pasti ngiler lihat tarif final saya? Kamu tinggal masukkan kode promo Uber saya saja: ubertwp di menu Promotion, untuk dapat free ride sampai tarif Rp. 75.000. Lebih jelasnya, saya sudah sertakan caranya di bagian akhir dari blog post ini.

(Baca juga: Is there a hobbit house at Farmhouse Susu Lembang?)

Waktu saya di Bali, saya juga mulai melirik layanan Uber ketika saya sudah berada di airport. Lagi – lagi saya mulai rajin menggunakan Uber untuk perjalanan dari dan ke airport di Bali ini. Di Bali ini, untuk pertama kalinya, saya disupiri oleh Uber driver wanita.

Pengalaman ketika di luar negeri

uber-in-malaysia

Uber in Malaysia also has UberLux!

Pengalaman memakai Uber di luar negeri, saya mulai ketika saya berada di Malaysia. Ini juga karena saya ingin menghadiri pernikahan teman blogger yang sudah saya kenal lama, Khai, tapi jarang ketemunya. (Entah kenapa, kok saya baru sadar, kalau pengalaman pertama menggunakan Uber selalu berhubungan dengan pernikahan, ya? Hmm …).

Saya memakai Uber di sini karena hal yang sederhana. Satu, karena saya tidak mau keringetan di pernikahan teman saya, karena jalan – jalan dari stasiun monorail untuk mencari taksi. Kedua, karena jarangnya transportasi publik ke area gedung pernikahan dari stasiun monorail terdekat dan sebaliknya. Akhirnya setelah saya bertanya ke teman, memang disarankan langsung menggunakan Uber saja dari tempat penginapan saya di Bukit Bintang menuju ke daerah Shah Alam.

Waktu saya membuka aplikasi Uber di Malaysia, ternyata saya cukup terkejut melihat pilihan kendaraan Uber yang tersedia. Kalau di Indonesia, pilihan hanya ada untuk layanan UberX (terbawah) dan UberBlack (menengah), maka di Malaysia ada yang namanya UberLux! What? UberLux?! Saya pun cukup yakin, kalau mobil dan rate Uber untuk layanan UberLux pastinya jauh lebih tinggi dari UberX. Dan, tak lama kemudian, mobil Perodua Myvi pun meluncur di depan saya.

Pengalaman memakai Uber di luar negeri yang kedua adalah di Thailand. Waktu itu karena saya terburu – buru, maka dari bandara lama Bangkok (DMK), saya memutuskan untuk menggunakan Uber menuju area Chit Lom. Pertamanya saya cukup kaget dengan rate yang membengkak dua kali lipat dari estimasi harga yang tertera. Ternyata memang untuk taksi dan Uber dari airport, memiliki harga khusus. Namun, tetap saja kata teman saya kalau rate Uber dari airport ke kota sudah cukup murah. Oh iya, alasan ketiga saya kenapa memakai Uber, berkaitan dengan kebingungan saya terhadap rate pada trip Uber saya dari DMK ke Chit Lom ini, di mana saya bertanya langsung ke customer support Uber. So far, Customer Support Uber sangat tanggap!

Kalau saya ada pertanyaan tentang trip saya, saya langsung melayangkan email ke customer support mereka di:

support@uber.com

Dilihat dari receipt yang saya terima untuk layanan Uber di Malaysia dan Thailand, ternyata rate Uber di luar negeri sudah termasuk dengan tiket tol, berbeda dengan di Indonesia yang tidak termasuk tiket tol (dulu sebenarnya di Indonesia juga sama dengan di luar negeri, namun karena satu dan lain hal, makanya penumpang harus membayar tiket tol sendiri).

uber-malaysia-thailand

Pengalaman beruber ria di Malaysia dan Thailand

UberMotor

Sekitar akhir Februari 2016, saya sempat share di Facebook artikel dari TechinAsia mengenai layanan UberMOTO yang dikabarkan akan masuk ke Indonesia.

uber-ubermoto-news

Berita tentang UberMOTO yang saya share di Facebook

Dan benar saja, ternyata Uber meluncurkan UberMotor di bulan April 2016. Namanya berbeda tipis dengan layanan Uber di luar, mungkin karena nama ‘motor’ akan lebih akrab di telinga orang Indonesia.

Sayangnya, berita mengejutkan ini, kurang dibarengi dengan keberadaan armadanya. Di hari – hari pertama peluncuran layanan ojek online yang juga populer dengan nama UberMotorJKT di media sosial ini, saya agak kesulitan untuk menemukan armadanya. Pengalaman menggunakan UberMotor baru terwujud beberapa hari kemudian, ketika saya berada di area dekat Kota Tua, Jakarta. Dan selanjutnya, saya juga sudah mulai dengan mudah menemukan UberMotor di area tempat saya tinggal.

uber-motor-jakarta

Hasil menjajal UberMotor. Helmya baru, sampai plastiknya pun masih terpasang! Haha.

Kesan pertama saya ketika melihat UberMotor adalah ‘Wow, helmnya keren amat!’ Kesan kedua saya ketika menggunakan UberMotor adalah ‘Wow, tarifnya murah amat!’ Lagi – lagi layanan Uber memiliki tarif yang bersaing. Dan kalau saya bandingkan dengan layanan ojek online lainnya, memang UberMotor untuk saat ini masih lebih murah. Kalau misalnya teman blogger saya, Adiitoo, mengatakan kalau UberMotor ini ‘ongkosnya ngajak ribut ojeg pangkalan’, kalau saya malah lebih penasaran melihat persaingan antara penyedia jasa ojek online. Strategi marketing apa lagi yang akan dikerahkan untuk menghadapi pesaing barunya ini, apakah perang harga lagi, atau ada lagi yang lain? Saya juga malah berharap kalau UberMotor mulai menyebar ke kota – kota lain, jadi bisa menambah alternatif transportasi di kota tersebut.

Nah di sini saya ingin memberi tahu alasan ke empat saya, kenapa memakai Uber. Uber itu fleksibel, dan saya tidak perlu menentukan tujuan saya ke mana. Berbeda dengan yang lain, di mana saya harus menentukan tujuan saya ke mana, karena ini untuk menentukan tarif tetapnya. Oh iya, ada pengalaman konyol berkaitain dengan alasan ke empat saya. Ini terjadi ketika saya mau ikutan Jakarta Walking Tour – nya Farid. Saya berencana ingin menyusul tur mereka, jadi saya harus mengikuti keberadaan Farid dan pesertanya pada saat itu. Farid kirim pesan ada di lokasi B. Saya pun pesan uberMotor dari lokasi A menuju lokasi B. Ternyata setelah saya sampai di B, Farid sudah ada di C, dan begitu saja seterusnya, sampai akhirnya saya memutuskan untuk balik lagi saja deh ke lokasi A haha!

uber-motor-receipt

Hasil muter – muter konyol dengan UberMotor! Untungnya murah!

Pembayaran dengan cash

Waktu pertama kali saya daftar tahun lalu, pendaftaran Uber memang hanya bisa dengan kartu kredit saja, karena memang Uber ingin memudahkan penumpangnya. Memang benar sih, daripada saya harus muter – muter cari pecahan kecil. Namun akhirnya Uber memutuskan untuk menambahkan pembayaran dengan menggunakan uang tunai, jadi layanan Uber juga bisa dimanfaatkan oleh orang lain dan teman saya yang memutuskan untuk tidak memiliki atau belum mempunyai kartu kredit. (Atau mungkin juga karena salah satu pesaing Uber memilih menggunakan metode cash daripada kartu kredit hehe). Sebenarnya, Bandung adalah kota pertama yang bisa menikmati pembayaran dengan cash, namun sekarang sudah bisa dinikmati juga di Jakarta.

Kalau kamu ingin menggunakan Uber, kamu bisa download Uber dari AppStore untuk iOs dan GooglePlay untuk Android:

uber-apple-download  uber-android-download

Cara pendaftaran dengan metode pembayaran ‘cash’ malah lebih cepat dibandingkan dengan yang ‘kartu kredit’, karena kamu tidak perlu memasukkan data kartu kreditmu.

uber-registrasi-kode-promo-code

Sekarang Uber sudah bisa menggunakan Cash, lho!

Setelah kamu memasukkan data profilmu, jangan lupa masukkan promo code Uber:

ubertwp

karena seperti yang sudah saya beritahu di atas, dengan memasukkan kode promo Uber ini, kamu bisa mendapatkan free ride hingga Rp. 75.000 (nilai free ride sekarang adalah Rp. 50.000 30.000 25.000,- untuk 2 trip pertamamu) dengan Uber.

Setelah itu, kamu tinggal memilih ‘cash’ sebagai metode pembayaran yang kamu inginkan.

Apabila kamu tidak ingat memasukkan kode promo pada saat registrasi, kamu bisa memasukkannya di menu ‘Promotion.’

add-promotion-code-UBER-4

Menambahkan kode promo ubertwp dari menu Promotion

Mudahnya pembayaran menggunakan cash atau kartu kredit, merupakan alasan saya suka memakai Uber yang kelima.

Trus, kamu boleh dong ceritain pengalaman memakai Uber 😉

FIND ME HERE
FACEBOOK | TWITTER | INSTAGRAM | GOOGLE+
email: mixedupalready@gmail.com
SNAPCHAT: timo_wp

Note:

Blog post ‘pengalaman memakai Uber’ ini bukan blog post berbayar, ya. Ini berdasarkan pengalaman pribadi. Lalu, kalau kamu pakai kode promo Uber saya: ubertwp, nanti saya juga bakal dapat free ride-nya. Jadi kita bisa sama – sama memanfaatkan free ride ini 😉

Advertisements
Comments
  1. Posted by andyhardiyanti
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by Shanti Norita
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by Donna Imelda
    • Posted by Timothy W Pawiro
  4. Posted by Dzulfikar
    • Posted by Timothy W Pawiro
  5. Posted by Melly Feyadin
    • Posted by Timothy W Pawiro
  6. Posted by Oky Maulana
    • Posted by Timothy W Pawiro
  7. Posted by Chocky Sihombing
    • Posted by Timothy W Pawiro
  8. Posted by Stephanie
    • Posted by Timothy W Pawiro
      • Posted by Stephanie
        • Posted by Timothy W Pawiro
  9. Posted by annisa
    • Posted by Timothy W Pawiro
  10. Posted by Nemoii
    • Posted by Timothy W Pawiro
  11. Posted by Ilham
    • Posted by Timothy W Pawiro
  12. Posted by Delta
    • Posted by Timothy W Pawiro
  13. Posted by Hamdan
    • Posted by Timothy W Pawiro
  14. Posted by ariv
    • Posted by Timothy W Pawiro
      • Posted by ariv

Add Your Comment