Lebih peduli lingkungan dengan HCS Approach

Author: | Posted in Liputan 32 Comments

Lebih peduli lingkungan dengan HCS Approach – Sudah banyak sekarang perusahaan yang peduli terhadap lingkungan, terutama perusahaan yang menggunakan lahan untuk melakukan penambangan, mengambil air dari mata air, perkebunan, dan sebagainya. Misalnya beberapa waktu lalu saya sempat mengikuti acara yang diadakan oleh sebuah perusahaan air mineral. Di acara itu disebutkan kalau mereka selalu melakukan penelitian terlebih dahulu ketika ingin menggunakan air dari sebuah mata air di suatu daerah. Salah satu hal yang dilihat adalah apakah lingkungan tersebut bisa dikonservasi atau ga nantinya.

hutan tropis

Penting melakukan penelitian untuk melihat apakah area hutan tersebut bisa dikonservasi nantinya atau ga (screenshot from HCS’ video)

Sama halnya dengan perusahaan air mineral tersebut, perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan juga seharusnya memiliki cara dan penelitian sebelum mereka memutuskan untuk membuka lahan. Jadi ga asal tebang atau bakar yang malahan akan merusak ekosistem di situ. Makanya saat ini sudah ada kolaborasi dari berbagai pihak yang melibatkan perusahaan, organisasi non-pemerintah (NGO), dan pihak lain yang peduli terhadap lingkungan. Kolaborasi ini ingin membuat suatu standar yang bisa digunakan oleh perusahaan-perusahaan ketika ingin mengembangkan usahanya dengan membuka lahan. Standar yang dimaksud itu bernama HCS Approach. HCS merupakan singkatan dari High Carbon Stock.

hcs approach launching event with aida greenbury grant rosoman dan kindy renaldy syahrir

Peluncuran versi ke dua dari HCS Approach

Apa sih itu High Carbon Stock?

Awalnya saya rada bingung, sebenarnya apa yang dimaksud dengan HCS ini sendiri. Setelah saya cari-cari, ada sih definisi sederhana yang saya temui mengenai ‘Carbon Stock’ itu sendiri dari Green Facts:

The quantity of carbon contained in a “pool”, meaning a reservoir or system which has the capacity to accumulate or release carbon.

Terjemahan kasarnya kira-kira begini:

‘jumlah karbon yang terdapat di dalam suatu ‘wadah’, apakah itu sebuah reservoir atau sistem, yang memiliki kemampuan untuk mengumpulkan atau melepaskan si karbon tersebut.’

hcs approach melindungi hutan tropis

Hutan tropis yang harus dilindungi (screenshot from HCS’ video)

Nah, hubungannya dengan hutan apa? Ada penjelasan lebih lanjut lagi mengenai itu:

In the context of forests it refers to the amount of carbon stored in the world’s forest ecosystem, mainly in living biomass and soil, but to a lesser extent also in dead wood and litter.

Untuk terjemahannya seperti ini:

‘Dalam konteks hutan, ini berhubungan dengan jumlah karbon yang tersimpan di dalam ekosistem hutan, seperti pada makhluk hidup dan tanah, tapi juga terdapat di pohon mati dan kotoran.’

Agak panjang, ya? Hehe. Tapi intinya sih yang dimaksud adalah hutan, terutama hutan tropis yang di dalamnya kaya dengan hewan dan tanaman, serta yang bisa memberikan pengaruh terhadap iklim dan suplai air. Lagian kamu masih inget ga, pelajaran di SD mengenai fungsi pohon yang menyerap karbondioksida dan menghasilkan oksigen yang berguna untuk kita. Itu lah salah satu hal penting dari pepohonan termasuk hutan tropis.

Apa itu HCS Approach?

HCS Approach itu sebenarnya berbentuk seperti toolkit, atau arahan yang bisa digunakan oleh sebuah perusahaan ketika ingin melakukan ekspansi dengan membuka lahan. Dengan menggunakan toolkit ini, perusahaan bisa mengetahui area mana dari hutan tersebut yang harus dilindungi dan area mana dari hutan tersebut yang bisa dimanfaatkan dan kemudian dikonservasi.

HCS Approach dibentuk dengan input serta metodologi yang terpercaya, karena menggunakan pendekatan lingkungan, sosial, dan ekonomi. Di dalamnya terdapat semacam ‘decision tree’ yang bisa memudahkan kita dalam menghasilkan keputusan. Kamu pasti sering melihat atau menggunakan ‘decision tree’ kan? Misalnya, kalau kamu setuju dengan tindakan A, maka kamu bisa melakukan B, C, atau D. Tapi kalau misalnya kamu ga setuju dengan tindakan A, berarti kamu harus melakukan E, F,  atau G.

decision tree hcs approach

‘Decision tree’ atau tahapan dalam mengambil keputusan di HCS Approach (screenshot from HCS’ video)

Sebenarnya proses dari terbentuknya HCS Approach ini diawali oleh komitmen Nestle di tahun 2009 untuk ga melakukan penggundulan hutan dalam rangka tahapan produksi di perusahaan tersebut. Beberapa tahun kemudian, beberapa organisasi seperti TFT (The Forest Trust) dan Greenpeace mulai membuat sebuah metodologi dan definisi mengenai hutan. Lama-lama semakin banyak perusahaan yang berkomitmen untuk menjaga lingkungan dan mengikuti metodologi ini, seperti Wilmar dan Musim Mas.

hcs approach membantu identifikasi area huta

Pembukaan lahan harus mengikuti standar dari HCS Approach sehingga ga merusak lingkungan (screenshot from HCS’ video)

hutan berganti jadi kebun kelapa sawit

Perkebunan kelapa sawit yang memanfaatkan area hutan (screenshot from HCS’ video)

HCS Approach yang sekarang merupakan pembaruan dari HCS Approach terdahulu, makanya yang sekarang menggunakan istilah HCS Approach v2.0 (alias versi ke dua). Untuk yang v1.0 udah terbit di sekitar April 2015, dan sejak itu setiap perusahaan yang menggunakan mulai memberikan feedback, misalnya masukan mengenai masalah yang dihadapi ketika menggunakan HCS Approach di perusahaan dan lainnya.

grant rosoman launch hcs approach v2

Grant Rosoman memegang toolkit HCS Approach v2.0

HCS Approach v2.0 tentunya udah memberikan update dari semua hal yang dibutuhkan oleh perusahaan yang menggunakan, termasuk metodologi serta peta hutan terbaru.

Di balik HCS Approach

Di balik HCS Approach tentunya terdapat tim ahli yang membuat metodologi ini sehingga perusahaan yang sudah berkomitmen bisa menggunakannya dengan lebih mudah, dan pastinya ga memakan biaya yang mahal. Tim inilah yang disebut dengan HCS Approach Steering Group.

Salah satu tugas yang harus dilakukan adalah melakukan pemetaan hutan. Pemetaan hutan dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari atas – misalnya dengan menggunakan bantuan satelit, atau bisa dilihat dengan mata sendiri dari pesawat, serta dari bawah tim darat akan survey langsung ke lokasi untuk melakukan pengukuran pohon serta mengambil foto kondisi lingkungan saat itu.

hcs approach survei hutan dari atas

Survei hutan dari atas (screenshot from HCS’ video)

petugas darat survey hutan

Petugas darat melakukan survei langsung ke area (screenshot from HCS’ video)

hcs approach final mapping

Hasil mapping hutan setelah mempertimbangkan berbagai aspek (screenshot from HCS’ video)

Selain itu, dalam membuat HCS Approach ini juga melihat sisi sosial dan ekonomi karena masih ada orang yang tinggal di dalam hutan. Negosiasi akan dilakukan untuk melihat, area mana dari hutan itu yang masih digunakan untuk lahan pekerjaan bagi para orang yang tinggal di hutan. Selain dari negoisasi, para tim ahli ini juga akan memberikan pelatihan kepada orang yang tinggal di hutan, sehingga mereka bisa memanfaatkan area yang sudah digunakan dari hutan tersebut agar bisa lebih produktif, tanpa harus membuka lahan lagi. Selain itu juga bisa diajari bagaimana untuk mendapatkan hasil dari hutan yang non-kayu, seperti misalnya madu.

Next things to do

Setelah peluncuran HCS Approach v2.0 tentunya pekerjaan ga hanya selesai sampai di situ, karena masih banyak yang harus dilakukan, seperti meningkatkan kerja sama dengan berbagai perusahaan serta LSM, dan meningkatkan penerapan HCS Approach ini ke lebih banyak perusahaan dan negara.

Memang awal mula dari HCS Approach ini dimulai dari benua Asia, seperti Indonesia dan Filipina, tapi kemudian sudah juga dibagikan ke negara-negara Afrika. Saat ini sudah ada 6 negara di Afrika yang menggunakan HCS Aprroach, serta ada tambahan 8 negara yang berkomitmen untuk menerapkan HCS Approach ini. Kalau dilihat dari total area hutannya, maka penerapan HCS Approach ini sudah ada di 10 juta hektar area hutan di seluruh dunia, dan 0,5 juta hektar area hutan sudah diidentifikasikan untuk dikonservasi.

Hal lain yang akan dilakukan adalah untuk membuat cara atau rancangan dari metode HCS Approach ini agar bisa digunakan oleh masyarakat petani kecil. Saat ini HCS Approach lebih digunakan oleh perusahaan-perusahaan yang sudah besar.

skala kecil petani hcs approach

Diharapkan HCS Approach bisa membantu petani kecil (screenshot from HCS’ video)

Kesemuanya ini diharapkan bisa turut serta mendukung komitmen Presiden Jokowi di Paris Agreement untuk mengurangi gas emisi hingga 29% per tahun 2030, atau hingga 41% jika Indonesia mendapatkan bantuan internasional dalam mengurangi gas emisi ini, misalnya dari Green Climate Fund.

Sebagai penutup, ini ada video dari HCS Approach mengenai bagaimana membuat dan apa tujuan dari HCS Approach ini:

 

Advertisements
Comments
  1. Posted by Liza
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by zarirah
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by tomi
    • Posted by Timothy W Pawiro
  4. Posted by Perempuan November
    • Posted by Timothy W Pawiro
  5. Posted by unggulcenter
    • Posted by Timothy W Pawiro
  6. Posted by Andhika Manggala
    • Posted by Timothy W Pawiro
  7. Posted by Jiah
    • Posted by Timothy W Pawiro
  8. Posted by Pu
    • Posted by Timothy W Pawiro
  9. Posted by William Giovanni
    • Posted by Timothy W Pawiro
  10. Posted by Dikki cantona putra
    • Posted by Timothy W Pawiro
  11. Posted by Tukang Jalan Jajan
    • Posted by Timothy W Pawiro
  12. Posted by lendyagasshi
    • Posted by Timothy W Pawiro
  13. Posted by Nabela
    • Posted by Timothy W Pawiro
  14. Posted by hello fika
    • Posted by Timothy W Pawiro
  15. Posted by Mahadewi
    • Posted by Timothy W Pawiro
  16. Posted by ira duniabiza
    • Posted by Timothy W Pawiro

Add Your Comment