Yuk, cari tau modus penipuan kartu kredit yang ada

Author: | Posted in Keuangan, Liputan 10 Comments

Yuk, cari tau modus penipuan kartu kredit yang ada – Beberapa waktu lalu saya sempat menghadiri blogger dan media gathering yang diadakan oleh sebuah bank. Dalam kesempatan tersebut, saya mendapatkan berbagai informasi mengenai pengamanan kartu kredit dari pelaku kejahatan yang menyasar para pengguna uang plastik ini.

Tentu banyak dari kita yang sudah mempunyai kartu kredit untuk transaksi non tunai, mungkin nggak hanya satu saja, bahkan beberapa kartu kredit sekaligus. Dulu saya sempat mempunyai beberapa kartu kredit karena beberapa alasan, misalnya kartu kredit tersebut sedang ada banyak promo. Kartu Kredit memang menguntungkan bagi penggunanya, asalkan kita bijak dan ekstra hati-hati dalam menggunakannya, terutama waspada terhadap berbagai modus penipuan kartu kredit.

modus penipuan kartu kredit

Yuk, cari tau jenis modus penipuan kartu kredit

Modus penipuan kartu kredit sudah ada banyak, namun umumnya ada 7 modus yang sering ditemukan oleh penerbit kartu kredit dari berbagai bank.

Beberapa jenis modus penipuan kartu kredit yang harus dicermati oleh nasabah (cardholder)

CATO (Card Take Over)

Pernah gak kamu ditawari untuk kenaikan limit kartu kredit, yang artinya kamu harus ganti kartu, misalnya dari yang silver ke gold. Kemudian kamu diberitau kalau akan ada petugas yang datang untuk menukar kartu silver-mu dengan kartu gold yang memiliki limit lebih besar.

Mungkin kalau ada yang mendengar kata ‘dinaikkan limit-nya’, ada yang merasa senang, karena ada yang mengartikan bahwa dia akan mendapat ‘extra cash’ lebih banyak lagi — ini mungkin lho, ya. Karena saking senangnya, maka dia langsung setuju untuk diganti kartu kredit silvernya dengan yang gold.

modus penipuan kartu kredit card take over cto

Cek dulu kalau ditawarin upgrade kartu ya, jangan asal beri kartu kreditmu ke orang yang mengaku petugas bank

Nah, beberapa hari kemudian datang ‘petugas’ mengaku sebagai perwakilan dari bank penerbit kartu kreditnya. Orang itu juga sudah membawa ‘kartu kredit gold baru’, dan memberitaukan kalau dia akan menggunting kartu kredit lamamu, sehingga tidak bisa dipakai lagi. Eits, jangan asal percaya saja, ya. Coba kamu perhatikan cara menggunting kartunya. Kalau kartu kreditmu sudah menggunakan chip, dia pasti tidak akan menggunting di bagian chip-nya. Kalau chip-nya tidak digunting, dia akan bisa menggunakan kartu itu lagi dengan menyelotip kartu atau merekatkan lagi bagian kartu yang sudah digunting tadi, dan digunakan untuk kepentingan pribadinya. Inilah yang disebut sebagai Card Take Over atau CATO.

Kalau begini yang rugi siapa? Ya si ‘dia’ yang sudah asal percaya saja dengan si ‘petugas’ boongan tadi itu.

Penawaran Member / Voucher Hotel

Siapa yang sering tergoda kalau ada yang mendapatkan penawaran paket keanggotaan travel atau voucher hotel. Kamu harus lebih hati-hati ya, jangan asal percaya atau tergiur dengan penawaran. Bisa saja ketika kamu sudah membayar, tapi ternyata voucher-nya fiktif atau tidak berlaku. Memang, gak semua penjual begini sih.  Tapi gak ada salahnya kalau di cek dulu kebenarannya.

SIM Card Take Over (SCTO)

SIM Card Take Over atau juga disebut SIM Swap ini bisa dibilang agak canggih juga sih modusnya. Si penjahat akan berpura-pura menjadi korban, dan dia akan datang ke gerai penyedia jasa telekomunikasi untuk mengganti SIM Card-nya dengan alasan rusak atau hilang— SIM Card yang dimaksud di sini adalah SIM Card si korban, ya. Si penjahat bisa juga berpura-pura sebagai orang suruhan si korban dengan menggunakan surat kuasa “palsu” untuk melakukan penukaran SIM Card, dan setelah dia mendapatkannya, maka otomatis SIM Card yang asli punya si korban tidak aktif lagi. Dan si pelaku kejahatan akan menerima SIM Card yang baru atas nama si korban. Alhasil si penjahat akan dengan mudah melakukan transaksi menggunakan nomor telepon seluler si korban. Sekarang kan belanja online sangat marak.  Transaksi semacam ini akan ada paycode-nya — atau istilahnya OTP (One Time Password), untuk memverifikasi transaksi online yang dilakukan dan pastinya akan di SMS ke SIM Card yang baru tadi, kan?

modus penipuan kartu kredit sim swap

Hati-hati dengan SIM Card take over, karena kalau lagi belanja online, kode OTP dikirim ke nomor hapemu

Kartu hilang terlambat lapor

Wah, kalau kartu hilang kok bisa terlambat lapor, ya? Mungkin karena kebanyakan kartu ya, hehe? Kalau begini sih, jadi agak susah apabila ternyata ada transaksi fiktif. Si korban mengatakan bahwa kartunya hilang, dan dia tidak merasa melakukan transaksi tersebut. Lalu kenapa si korban tidak segera melapor kalau kartunya hilang? Bank tau dari mana, kalau si korban tidak memberikan laporan kehilangan kartu.

Gestun alias Gesek Tunai

Gesek tunai itu maksudnya apa? Maksudnya, nasabah dengan sengaja menggesek kartu kreditnya di mesin EDC merchant untuk mendapatkan uang tunai. Yang digesek itu kartu kredit ya, bukan kartu debit —- karena kalau kartu debit ya artinya dia semacam ‘tarik tunai’ lah, ya 😀

gesek tunai gestun dilarang bank

Tuh ya, udah diberitau oleh bank-nya kalau transaksi gestun tidak boleh 😀

Memang tujuan dari nasabah melakukan gestun alias gesek tunai apa, ya?

Tentunya tujuan dari gestun adalah untuk mendapatkan uang tunai ekstra yang diambil dari limit kartu kredit dia. Kalau begini kan sama saja seperti kamu belanja alias nantinya bisa menambah tagihan kartu kreditmu. Padahal Peraturan dari Bank Indonesia Nomor 14/2/PBI/2012 jelas-jelas menyebutkan bahwa fungsi kartu kredit adalah sebagai alat pembayaran untuk transaksi pembelanjaan di merchant/pedagang atau penarikan tunai di ATM. Inilah kenapa gestun itu tidak dibenarkan oleh bank, karena kemungkinan terjadinya gagal bayar tagihan kartu kreditnya ‘kan jadi tambah besar, ya? Menurutmu bagaimana?

PIN

Coba saya mau tanya dulu, apakah kamu yang memiliki kartu kredit sudah mendaftarkan PIN untuk kartu kreditmu? PIN ini nantinya akan digunakan jika kamu melakukan transaksi di merchant atau ATM. Rencananya sih memang PIN ini nantinya akan menggantikan fungsi tanda tangan pada saat memverifikasi transaksi di merchant. Namun mungkin kamu masih sering menemukan merchant yang bertanya ‘mau PIN atau tanda tangan’, ‘kan? Kamu masih bisa memilih menggunakan PIN atau tanda tangan untuk verifikasi transaksi memang masih diperbolehkan untuk saat ini. Ini karena sekarang masih masa transisi, dan rencananya akan berakhir di Desember 2016 ini.

Kalau kamu sendiri, lebih suka PIN atau tanda tangan nih? Hehehe.

Phishing

Phishing menurut Wikipedia artinya adalah:

the attempt to obtain sensitive information such as usernames, passwords, and credit card details (and sometimes, indirectly, money), often for malicious reasons, by masquerading as a trustworthy entity in an electronic communication

Alias, pengambilan data sensitif, seperti misalnya username, passwords, dan informasi detil kartu kredit, untuk tujuan yang tidak benar. Ternyata kegiatan phishing bisa saja ‘menyamar’ sebagai pihak yang dikenal atau dari perusahaan besar.

Apabila menerima pesan atau email aneh dari temanmu yang berisi sebuah link, pastinya kamu perlu tanya temanmu lebih dulu atau pihak lainnya mengenai email aneh tersebut. Jangan coba-coba kamu klik link tersebut sebelum kamu tau jelas link yang ada di email tersebut. Karena kalau kamu klik link yang ada di email tersebut, kamu akan diarahkan pada situs tertentu yang seakan-akan “asli”, padahal situs itu “palsu”. Oh iya, tentunya ‘phishing’ ini bisa juga berasal dari email yang pengirimnya tidak kamu kenal, ya.

modus penipuan kartu kredit secara phishing

Modus penipuan kartu kredit secara phishing 

Sederhananya begini.  Misalnya kamu menerima email yang dikirim oleh perusahaan besar, seperti email dari brand ‘si apel’ yang keroak itu, mungkin kamu diminta untuk memperbaharui datamu di akun ‘si apel’ tersebut. Caranya bisa dengan mengklik link yang terdapat di email tersebut. Bisa saja ketika kamu membuka link tersebut, tampilannya akan sangat mirip dengan tampilan aslinya, padahal itu bukanlah website yang asli. Nah, kalau kamu menerima email sejenis ini, coba kamu perhatikan baik-baik alamat email dari si pengirim. Kalau memang email tersebut dikirim dari perusahaan ‘si apel’, tentunya domain emailnya adalah abc@siapel.com, bukan?

Contoh kasus phishing

Sepertinya kok metode penipuan kartu kredit secara phishing bisa dibilang cukup populer ya. Saya dulu pernah mengalaminya nih, cuma bukan dari email, tapi dari telepon. Ceritanya waktu itu saya ditelpon dari telesales bank penerbit kartu kredit saya, bahwa saya mendapatkan dana tunai yang diambil dari saldo kartu kredit saya. Kurang inget kenapa saya ambil, tapi biasanya saya ambil karena bunganya 0%. Karena saya tidak curiga, akhirnya saya memberikan beberapa data yang diperlukan untuk memproses transaksi dana tunai tersebut. Saya juga diminta untuk tidak menggunakan kartu kredit saya, karena ditakutkan nanti sisa limitnya tidak sesuai dengan jumlah dana tunai yang mau dikeluarkan.

jaga kartu kredit baik

Jaga kartu kreditmu baik-baik 🙂

Beberapa hari kemudian, pas pagi hari, saya ditelpon oleh bank penerbit kartu kredit saya. Kalau didengar dari suaranya, sepertinya ini sesuatu yang ‘urgent’, dan benar saja, ternyata pada waktu saya tidur terjadi tiga kali transaksi hingga beberapa juta — kurang ingat pastinya berapa. Saya ditanya mengenai transaksi itu, apakah benar saya yang melakukannya atau tidak. Setelah saya memberitaukan kalau ketiga transaksi itu bukan saya yang melakukan, pihak bank langsung bergerak cepat untuk menutup kartu saya untuk kemudian diganti yang baru.

Beruntung ada pihak bank yang sigap mencegah hal-hal buruk lainnya terjadi lagi. Memang saya diminta untuk membayar tagihan tersebut terlebih dahulu untuk menghindari dikenakannya bunga apabila tidak bayar secara penuh tagihannya. Proses investigasi dan refund-nya memakan waktu yang agak lama, tapi sekali lagi saya beruntung kalau transaksi tersebut dibatalkan. Nominal total dari transaksi tersebut juga sudah dikreditkan kembali ke kartu kredit saya. Tapi entahlah, apakah ada hubungannya antara penawaran KTA tersebut dengan transaksi fiktif yang saya alami.

Oh iya, istilah phishing yang melalui telepon, bisa juga disebut sebagai ‘voice phishing’ atau ‘vishing.

Sekilas modus penipuan kartu kredit dari sisi merchant

Nah, kalau sebelumnya dari sisi cardholder alias customer, sekarang dari sisi merchant.

Kamu tau mesin EDC, kan? Yang digunakan untuk menggesek kartu kredit dan kartu debit. Ternyata mesin EDC itu identik dengan keberadaan si merchant itu sendiri — anggaplah merchant / penjual A. Apabila mesin EDC didaftarkan untuk tokonya yang terletak di jalan Pakubuwono, Jakarta Selatan, maka EDC itu tidak bisa sembarangan dipindahkan untuk dipakai transaksi di tempat lain, misalnya Bandung. Selain itu, pada saat pendaftaran, si penjual A juga harus memberitaukan jenis produk atau service yang dijual. Apabila si penjual A, mendaftarkan dirinya sebagai penjual pakaian anak-anak, kemudian dia ada saudara yang jualan semen. Berarti si penjual A sudah melanggar dua hal nih, yaitu menjual jenis produk yang bukan produk dari tokonya, serta meminjamkan mesin EDC untuk toko saudaranya.

Contoh berikutnya adalah biaya surcharge yang dikenakan oleh si penjual. Saya pernah beberapa kali dikenai biaya tambahan karena melakukan pembayaran menggunakan kartu kredt. Bagaimana mau menolak ya, secara waktu itu saya lagi butuh, jadi mau gak mau ‘menerima’ biaya tambahan itu. Huhuhu!

Tadi saya sudah menyebutkan kalau bank melarang nasabahnya untuk melakukan transaksi gestun di merchant, berarti sebenarnya bank juga memberikan peraturan tersebut ke merchant-nya dong? Bener banget. Si merchant tidak boleh melakukan transaksi gestun di mesin EDC-nya, dan kalau si merchant ketauan melakukan transaksi gestun di mesin EDC, maka mesinnya akan di-downgrade. Fitur pembayaran kartu kredit akan dihilangkan, sehingga hanya bisa menerima transaksi kartu debit saja. Bahkan bisa saja mesin EDCnya ditarik oleh pihak bank. Rugi sendiri kan?

Apakah sudah ada edukasi dari bank mengenai modus penipuan ini?

Bank penerbit kartu kredit tentunya sudah berpengalaman menangani modus penipuan kartu kredit selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, bank melakukan pencegahan dengan memberikan edukasi baik dalam bentuk flyer, atau pun tambahan informasi yang biasanya ada di bagian belakang tagihan kartu kredit nasabah.

bentuk edukasi bank cegah penipuan kartu kredit

Salah satu bentuk edukasi dari bank penerbit kartu kredit

Nah, apakah kamu pernah menjadi korban salah satu modus penipuan kartu kredit? Mudah-mudahan gak lah, yaa… tapi kalau misalnya ada, boleh ya di-share di komen 🙂

Advertisements
Comments
  1. Posted by cumilebay
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by evrinasp
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by Deddy Huang
    • Posted by Timothy W Pawiro
  4. Posted by Rahmah Chemist
    • Posted by Timothy W Pawiro
  5. Posted by Mirna Kei Rahardjo
    • Posted by Timothy W Pawiro

Add Your Comment