Menjadi seorang Patriot Energi di Mentawai

Author: | Posted in Guest Post, Wisata 6 Comments

Menjadi seorang Patriot Energi di Mentawai merupakan guest post pertama di blog Kadungcampur.com. Seneng banget ada temen yang mau, pas dimintain untuk menjadi guest post pertama. ‘Menjadi seorang Patriot Energi di Mentawai’ bercerita mengenai pengalaman temen saya, Ekky, yang menjadi seorang Patriot Energi di Mentawai, Sumatera 🙂

Lima bulan merupakan waktu yang singkat untuk menimba sebuah pengalaman di tempat yang baru. Namun tentunya itu bukanlah suatu masalah, jika kita benar-benar menikmatinya. Menikmati tiap jengkal perjalanan hidup di tempat baru yang memberi pengalaman luar biasa. Ini hal yang kulakukan dan kudapatkan ketika menjalani masa lima bulanku sebagai Penamping Masyarakat melalui program Patriot Energi di Dusun Betumonga Selatan, Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai.

Teman baru di Desa Betumonga, Kepulauan Mentawai

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Dusun Betumonga, aku langsung menjadi pusat perhatian anak-anak sekitar. Perkenalanku dimulai dari tatap polos mata mereka, dari senyum tulus malu-malu yang menjadi jawaban dari setiap pertanyaan yang ku lontarkan. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibir mereka. Aku tersenyum, sembari menjulurkan tangan ke mereka, bersalaman. Ada yang malu-malu, ada juga yang dengan kuat dan pede-nya menyalamiku balik erat-erat.

rizki-akbar-ekky-patriot-energi-mentawai-anak-lokal-desa-betumonga

Anak-anak di Desa Betumonga, Kepulauan Mentawai

“Iklas, Bang” seru seseorang yang ada diantara mereka.

Umurnya ku taksir sekitar sebelas atau dua belasan, rambut dipangkas model punk, ada tahi lalat disebelah kiri hidungnya. Tak kurang dari sepuluh anak mengerubungiku. Kami duduk melingkar sembari  mencairkan suasana kaku yang tiba-tiba datang. Aku mengajak mereka bermain ABC jari-jari. Kami menebak nama buah-buhan, bunga, burung, dan lainnya. Sebagian dari mereka menjawab dengan Bahasa Mentawai yang tak ku pahami.

Banyak dari mereka yang hanya sepatah dua kata menggunakan bahasa Indonesia. Kemudian, kami belajar bersama, aku mengajari mereka beberapa kata dalam bahasa Indonesia, mereka mengajariku Bahasa Mentawai. Sebuah Simbiosis Mutualisme.

Menutup perkenalan pertama kami sore itu, aku juga sempat mengajari mereka gerakan pembuka Tarian Aceh, Ratoeh Duek, dengan menggunakan tangan. Mereka tampak sangat senang menepuk-nepuk kedua belah tangan, dada, dan paha. Kami tertawa.

Bertukar bahasa

Selama lima bulan masa penempatan di Mentawai, aku tinggal di rumah panggung Keluarga Pak Kristian, yang merupakan Bapak Piara, sebutan untuk ‘Bapak Angkat’ selama di sana. Beliau merupakan Kepala Dusun Betumonga Selatan. Rumahnya amat sangat sederhana, dibangun dari potongan papan dengan panjang enam meter dan lebar dua setengah meter serta dipayungi dedaunan Rumbia. Didalamnya hanya terdapat dapur kecil yang menyatu dengan ruang kecil dan satu kamar. Tidak ada fasilitas MCK.

rizki-akbar-ekky-patriot-energi-mentawai-desa-betumonga

Tempat tinggal sementara selama masa penugasan sebagai Patriot Energi di Desa Betumonga, Kepulauan Mentawai

Di sebelahnya, terdapat satu rumah panggung mungil yang berukuran 4×4 meter yang merupakan tempat aku tinggal sehari-hari. Rumah panggung mungil ini terbagi menjadi dua kamar kecil dengan teras mungil di depannya. Di teras inilah, aku dan anak-anak Desa Betumonga kerap bermain dan belajar bersama. Mereka sering datang, sekedar mengajakku mengobrol menggunakan Bahasa Indonesia.

“Kalo ini apa kamu bilangnya, Bang?” Kata Madin, salah seorang anak tetangga, tangannya menunjuk ke arah bangunan berbentuk panggung.

‘Rumah’, jawabku.

Kalo Bahasa Kalagannya, L-a-l-e-p” Ia berusaha megatakannya dengan perlahan.

Lalep merupakan sebutan untuk ‘rumah’ dalam Bahasa Mentawai.

Kalo yang sana bang, Lo-i-nak” Tangannya menunjuk tumpukan kayu bakar yang baru selesai dipotong-potong.

Aku mencoba melafazkan apa yang mereka minta.

Kemudian mereka serentak memukul tanah, sembari berkata “Koi ne’, Po-laak”. Polak dalam bahasa Mentawai mempunyai arti ‘tanah’.

Ma-nu-a” tangan mereka menunjuk ke atas yang berarti ‘langit’.

Aku coba melafazkannya bersama mereka.

Aku juga menambahkan beberapa kata yang mereka ucapkan dalam Bahasa Inggris. Mereka kesusahan, lidahnya seperti tertekuk.

Antara buku dan puzzle

Memasuki bulan kedua masa tugas di Mentawai, aku membeli beberapa buku bacaan cerita anak, Atlas, kamus bergambar, dan beberapa permainan puzzle untuk anak-anak di desa. Banyak dari anak-anak di sana yang belum lancar membaca, bahkan ada yang belum bisa membaca padahal sudah kelas empat SD.  Mereka amat antusias ketika ada buku. Saban siang atau sore sepulang sekolah, mereka berkurumun di teras depan kamarku.

rizki-akbar-ekky-patriot-energi-mentawai-desa-betumonga-anak-lokal-2

Teman baru selama di Mentawai

“Mau baca, Bang”.

Beberapa ada yang membaca, sebagian lagi bermain puzzle. Pada awalnya mereka masih senang membaca buku tapi lama-kelamaan mereka mulai tidak tertarik. Permainan puzzle terasa lebih menyenangkan bagi mereka. Aku kemudian memberlakukan sedikit peraturan. Jika ingin bermain puzzle, harus membaca buku minimal satu paragraf cerita. Tadinya banyak dari mereka yang langsung cemberut. Namun lambat laun mereka mulai terbiasa.

Adalah Esi Marida, murid kelas empat SD yang belum bisa membaca. Rumahnya tepat berada di depan rumah tempat aku tinggal. Dengan menggunakan Bahasa Indonesia campur Kalagan, ia berkomunikasi denganku.

Tak momoy (tidak bisa) aku, Bang”, ujarnya saat ku ajarkan mengeja membaca buku cerita.

Sudah sejam ia berkutat dengan empat kalimat pendek dalam cerita itu. Hatinya ingin segera  bermain puzzle. Wajahnya kusut sedari tadi. Aku tersenyum, menyudahi prosesi mengeja kami sore itu.

Menonton Petualangan Sherina

Pernah suatu ketika, anak-anak di dusun meminta untuk menonton film, kebetulan aku membawa serta laptop. Aku memang sengaja membawa laptop, selain untuk mengerjakan laporan, juga sebagai hiburan selama di penempatan. Karena di sana belum tersedia listrik, untuk keperluan charging, aku meminta bantuan kepala desa, kebetulan di rumahnya ada mesin genset.

Kami menonton film anak-anak, seperti ‘Petualangan Sherina’. Mereka sangat senang, terutama ketika ada adegan nyanyian-nyanyian. Tak butuh waktu lama, lagu-lagu di film Petualangan Sherina pun menjadi soundtrack sehari-hari mereka. Mulai dari pergi ke sekolah, bermain,  sampai mandi pun, mereka tetap mendendangkannya. Uniknya ada beberapa anak yang menganggap Sherina itu masih berumur 11 tahun, atau kurang lebih setara dengan mereka. Aku tertawa geli. Perlahan ku jelaskan kepada mereka kalau itu adalah film sepuluh tahun yang lalu. Sekarang para pemainnya sudah dewasa.

Pereeww (Alamak) !” Seru mereka.

Memang, aku sengaja memberi tontonan seperti ini untuk anak-anak, supaya mereka bisa belajar dan  terbiasa untuk tidak asing menggunakan Bahasa Indonesia. Mereka yang tadinya malu-malu untuk mengobrol menggunakan Bahasa Indonesia, lama kelamaan mulai mau, meski hanya sepatah dua patah kata, bahkan ada yang penggunaannya terbalik, seperti pergi dan pulang. Contohnya saat pagi, ketika mereka hendak berangkat ke sekolah, mereka berkata ‘Pulang ke sekolah dulu ya, Bang’. Aku pun tertawa, kemudian mengoreksi perkataan mereka.

Saat terakhir sebagai seorang Patriot Energi di Mentawai

Aku jadi teringat, menjelang hari-hari terakhir meninggalkan Desa Betumonga, Madin, anak tetangga sebelah berceletuk ketika kami tengah kumpul sore itu di teras depan kamarku, selepas mempelajari Peta Indonesia di Buku Atlas. Ia dan teman-temannya amat sangat jarang menggunakan bahasa Indonesia, bahkan saat di sekolah sekalipun. Gurunya lebih banyak menggunakan Bahasa Kalagan. Karena itu mereka agak sedikit malu dan minder jika bercakap-cakap dalam Bahasa Indonesia. Ia berterimakasih kepadaku.

rizki-akbar-ekky-patriot-energi-mentawai-anak-sekolah-dasar-lokal-3

Anak-anak Sekolah Dasar di Desa Betumonga, Kepulauan Mentawai

“Mungkin kalo kamu tidak datang ke sini Bang, kami ga akan tahu, seperti apa berbicara Bahasa Indonesia itu” .

Hatiku mengembang.

Berbahagialah orang yang dalam hidupnya senantiasa bisa berbagi, memberi manfaat bagi sesama. Begitulah yang kurasakan bersama anak-anak ini. Mereka telah menjadi teman yang baik selama lima bulan masa tugasku sebagai Pendamping Masyarakat dan aku benar-benar belajar banyak. Terima kasih 🙂

 

 

Profil Rizki Akbar

rizki-akbar-ekky-patriot-energi-mentawai-desa-betumonga

Rizki Akbar

Rizki “Ekky” Akbar bertugas sebagai Patriot Energi, sebuah program dari Kementrian ESDM untuk Pendampingan Masyarakat yang hidup di remote area dalam pengembangan Energi Terbarukan secara mandiri. Pernah bertugas di Mentawai selama lima bulan. Saat ini sedang menjalankan tugas di Desa Yabanda Distrik Senggi Kabupaten Keerom, Papua. Ekky dapat dihubungi di:

Email         : inginjadibaek@gmail.com
IG               : @ekky_akbar

(Note: semua foto di sini merupakan koleksi dari Ekky)

Advertisements
Comments
  1. Posted by Nasirullah Sitam
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by Ilyas Afsoh
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by Hastira
    • Posted by Timothy W Pawiro

Add Your Comment