Madura … Oh, Madura

Author: | Posted in Liputan, Wisata 36 Comments

Sudah lama sebenarnya saya ingin pergi ke Madura dan mengeksplorasi pulau tersebut. Beberapa teman saya bahkan sudah ada yang pernah ke sana, sehingga membuat saya makin penasaran. Teman-teman saya waktu itu sih hanya melihat-lihat ladang pembuatan garam dan salah satu mercusuar di sana. Kemudian, rasa penasaran pun bertambah ketika melihat keindahan alam Madura dari foto-foto yang bersliweran di Instagram membuat rasa penasaran saya meningkat. At least, foto-foto dulu deh di Jembatan Suramadu hehe.

menduniakanmadura-madura-jembatan-suramadu

Melintasi Jembatan Suramadu pertama kali nih 😀

Akhirnya keinginan saya untuk menjejakkan kaki pertama kali ke Madura kesampaian juga di bulan November 2016. Sebuah trip bertajukan #MenduniakanMadura (bisa di-search keriuhan kami dengan pakai hashtag ini) diorganisir oleh perkumpulan blogger Madura, yang lebih dikenal dengan blogger Plat-M, mengajak para blogger untuk berkumpul, melihat-lihat, dan mempromosikan Madura. Kalau dilihat, cukup banyak peminatnya, dan ada sekitar 40 blogger yang terpilih untuk ikut serta dalam trip ini yang berasal dari berbagai daerah, ada yang dari Medan, Lampung, Pontianak, Jogja, Solo, Jakarta, dan tentunya Tangerang Selatan hehe. Ternyata hanya segelintir orang yang baru saya kenal, jadi lumayan juga menambah kenalan baru.

menduniakanmadura-madura-blogger

Seseruan bareng bloggers dari beberapa daerah untuk trip #MenduniakanMadura

Rute perjalanan #MenduniakanMadura

Pulau Madura yang merupakan bagian dari propinsi Jawa Timur, memiliki 4 kabupaten, yaitu Bangkalan, Pamekasan, Sampang, dan Sumenep. Ternyata, kalau dilihat dari itinerary yang dikirim oleh panitia, selama trip 4 hari 3 malam itu, kami melewati semua kabupaten tersebut, namun perjalanan kami hanya mengelilingi pulaunya saja, alias melewati jalur pesisirnya saja. Sepertinya kalau sampai mengeksplorasi bagian dalamnya, waktu 4 hari 3 malam ga akan cukup.

Melihat #JejakBPWS

Rute dari trip #MenduniakanMadura ini, sebenarnya juga ingin mempromosikan rekam jejak dari BPWS, yang merupakan kependekan dari Badan Pengembangan Wilayah Suramadu. Nah, sebenarnya nama Suramadu sendiri merupakan kependekan dari Surabaya – Madura. Jadi BPWS ini memiliki tugas agar terjadi keseimbangan antara Surabaya dan Pulau Madura, dengan kata lain, mempercepat peningkatan kesejahteraan penduduk di Pulau Madura, sehingga seimbang dengan Surabaya.

menduniakanmadura-madura-kaos

#MenduniakanMadura dan #JejakBPWS

Hal-hal yang sudah direncanakan misalnya pengembangan KKJSM alias Kawasan Kaki Jembatan Sisi Madura yang menjadi ‘pintu masuk’ dari jembatan Suramadu. Di sini kami diajak melihat pembangunan sebuah rest area di dekat mulut Jembatan Suramadu. Nanti di sini akan ditempati oleh para PKL yang sekarang menempati sisi jalan utama. Selain KKJSM, ada juga KKM atau Kawasan Khusus Madura, yang lebih berperan sebagai kawasan industri dan pergudangan. Oh iya, kami sempat lihat area di Kabupatan Bangkalan yang nantinya akan menjadi salah satu Pelabuhan Internasional Hub.

menduniakanmadura-madura-kkjsm-rest-area

Blogger Apri lagi memantau area yang nantinya akan dijadikan rest area dekat dengan kaki Jembatan Suramadu (sisi Madura)

BPWS ternyata juga memiliki peran pada pengembangan infrastruktur di Pulau Madura, misalnya perbaikan jalan, penerangan jalan umum, penyediaan air minum. Infrastruktur yang dibangun oleh BPWS ga hanya pulau Madura saja, tapi juga pulau-pulau kecil di sekelilingnya, termasuk Giliyang, yang menjadi salah satu pemberhentian di trip #MenduniakanMadura. Ternyata BPWS membantu pembuatan paving yang menjadi jalan utama di pulau Giliyang, dan juga tentunya beberapa guest house, yang salah satunya kami tinggali.

Melihat Pesona Madura

Untuk mempromosikan sebuah tempat, tentunya salah satu hal yang mudah adalah dengan mempromosikan tempat wisata serta keindahan alamnya. Sama seperti ketika trip #MenduniakanMadura , di rute yang kami tempuh juga melewati spot-spot wisata, apalagi memang rute yang diambil itu mengelilingi Madura melalui jalur pesisir.

menduniakanmadura-madura-sampang-pantai-nepa

Blogger Mira Sahid lagi enjoy the moment di Pantai Nepa, Madura

Sebut saja salah satunya Pantai Nepa, yang terletak di kabupaten Sampang. Pantai ini cukup unik, karena di salah satu sisinya terdapat hutan yang bernama Hutan Kera Nepa. Dinamakan Hutan Kera, karena memang di dalamnya dihuni oleh banyak kera. Percaya ga percaya, di Hutan Kera Nepa ini terbagi menjadi dua daerah, utara dan selatan, dan yang dari utara ga boleh menuju ke selatan. Kalau terjadi bagaimana? Katanya ya ga bisa balik lagi. Waktu itu kami sempat berkeliling di dalam hutan, dan terdapat satu pohon yang menjadi petilasan dari Raden Segoro. Terkadang tempat ini juga dijadikan ritual buat orang-orang yang ingin punya hajat.

menduniakanmadura-madura-sampang-hutan-kera-nepa

Satu dari sekian kera yang berkeliaran di Hutan Kera Nepa pada saat kami berkunjung

menduniakanmadura-madura-sampang-hutan-kera-nepa-petilasan-raden-segoro

Petilasan Raden Segoro di dalam Hutan Kera Nepa

Selain ke pantai, kami juga diajak untuk melihat pesona Madura lainnya, dan masih di Kabupaten Sampang. Kali ini yang dilihat adalah Air Terjun Toroan. Biasanya kalau pergi melihat air terjun, saya harus trekking dulu beberapa lama hingga sampai ke air terjun itu, contohnya ketika berkunjung ke Air Terjun Perpas di Sumbawa, dan Air Terjun Tiu Kelep di Lombok. Nah, kalau Air Terjun Toroan ini karena airnya langsung mengalir jatuh ke laut, jadinya kami ga perlu trekking jauh-jauh. Tinggal turun tangga saja. Air Terjun Toroan memang cakep kalau dilihat, tapi hati-hati karena ga boleh berenang, karena di dekatnya ada palung laut.

menduniakanmadura-madura-sampang-menuju-air-terjun-toroan

Jalan menuju Air Terjun Toroan di Madura

menduniakanmadura-madura-sampang-menuju-air-terjun-toroan-2

Air terjun Toroan dari kejauhan

menduniakanmadura-madura-sampang-air-terjun-toroan-nelayan

Sempat melihat juga nelayan yang lagi beraksi menangkap ikan 😮

Keindahan Madura selanjutnya yang kami nikmati adalah menikmati hidup di sebuah pulau yang memiliki kadar Oksigen tertinggi kedua — yang pertama terletak di Yordania. Namanya Giliyang. Pulau ini merupakan bagian dari kabupaten Sumenep, dan bisa kamu hampiri dengan perjalanan kapal selama kurang lebih 30 menit. Suasananya bisa dibilang masih lumayan sepi, dan biasanya listrik akan menyala setelah sore hari. Ini karena sebagian besar masih menggunakan tenaga matahari dan genset.

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-transportasi-viar

Transportasi selama di Giliyang — naik Viar

Walaupun sepi, tentunya pulau ini ga kalah cantiknya dengan Gili Trawangan. Kami hanya sempat bermain ke tiga tempat wisata waktu itu, mulai dari Pantai Ropet yang berbatu karang, Pantai Fosil Ikan Paus, dan sebuah Goa Mahakarya. Waktu di Pantai Ropet, mungkin kamu bisa saja melihat para nelayan yang berenang menuju pantai dari kapalnya yang ditambatkan di tengah laut, atau terkadang melihat anak-anak kecil sedang berdiri di tebing karang. Tenang saja, mereka di sana hanya ingin menangkap cumi! Alat pancing yang mereka gunakan juga sangat sederhana: benang pancing, kail, dan umpan. Butuh kesabaran memang untuk menangkap si cumi ini. Nah, kalau di goa mahakarya, kami sempat melihat stalagmit dan stalaktit. Jadi ingat waktu saya jalan-jalan ke Perth, sempat masuk ke salah satu goa di sana, dan dibuat cakep dengan lampu warna-warni. Semoga nanti Goa Mahakarya bisa cakep juga.

menduniakanmadura-madura-sampang-air-terjun-toroan-nelayan

Ada fosil ikan paus di Giliyang

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-pantai-ropet-5

Menuju Pantai Ropet di yang berbatu karang di Giliyang

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-pantai-ropet-6

Beberapa nelayan berenang dari kapalnya menuju Pantai Ropet yang ditambatkan di tengah laut

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-pantai-ropet-anak-kecil-menangkap-cumi

Seorang anak lagi beraksi di tebing karang untuk menangkap cumi

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-gua-mahakarya-2

Mengunjungi goa Mahakarya di Giliyang

Melihat hasil alam dan karya

Kalau saya berkunjung ke suatu daerah, saya biasanya cari tau apakah di daerah tersebut penghasil batik jugakah. Kalau ada rejeki, biasanya saya suka beberapa kain untuk saya dan kedua orang tua saya. Saya makin tambah sumringah ketika tau kalau di trip #MenduniakanMadura kami akan mengunjungi sebuah desa batik di kabupaten Pamekasan. Namanya Desa Batik Klampar. Di desa ini ternyata juga ada workshop-nya, sehingga kami bisa melihat bagaimana membuat motif kain batiknya dari ketika kainnya masih polos. Dan ketika ditunjukkan ke showroom-nya, wah mau pilih-pilih nanti kelamaan. Untung ada pemiliknya yang bernama Pak Ahmadi, yang bisa bantu-bantu pilih. Harganya bervariasi tergantung kualitas kainnya.

menduniakanmadura-madura-sumenep-desa-batik-klampar

Mengunjungi Desa Batik Klampar

menduniakanmadura-madura-sumenep-desa-batik-klampar-owner-ahmadi

Pak Ahmadi (tengah) – sang pemilik, beserta istri dan anaknya. Eh kok anak sih 😀

Untuk hasil karya seperti batik ini, sebenarnya juga tersedia di toko oleh-oleh Tresna Art yang sempat kami hampiri dalam perjalanan pulang. Toko Tresna Art ini terletak di Bangkalan, dan mereka sepertinya memang sengaja untuk membuat toko mereka unik, apik, dan memunculkan unsur tradisional dari Madura, seperti misalnya terdapat replika rumah Madura di bagian belakang toko Tresna Art.

menduniakanmadura-madura-bangkalan-tresna-art

Welcome to Tresna Art

Lalu bagaimana dengan hasil alamnya. Sebenarnya pasti yang terbersit adalah garam. Sayangnya kami ga sempat untuk mengamati secara langsung. Kami hanya sekilas melihat area yang digunakan sebagai ‘ladang garam’ ketika dalam perjalanan. Sepertinya di musim hujan ini, kurang aktif aktivitasnya, padahal ingin banget lihatnya. Namun ada satu hasil alam lagi yang sempat kami lihat secara langsung, rumput laut. Di Madura juga ada penduduk yang berprofesi sebagai petani rumput laut, dan kami mengunjungi yang ada di daerah Saronggi, di kabupaten Sumenep. Di sini kami bisa melihat, bagaimana para petani menjemur rumput lautnya, mulai dari yang masih hijau, hingga berubah jadi putih kalau sudah mulai mengering. Sedangkan di tempat lain ada semacam gubuk, dan di dalamnya terdapat beberapa petani yang sedang bekerja untuk memilah-milah rumput laut hasil panenannya, serta ada yang mempersiapkan anakan rumput laut untuk ‘ditanam’ lagi di laut.

menduniakanmadura-madura-sumenep-saronggi-desa-rumput-laut

Menuju pantai untuk melihat petani rumput laut

menduniakanmadura-madura-sumenep-saronggi-desa-rumput-laut-2

Rumput laut sedang dijemur

menduniakanmadura-madura-sumenep-saronggi-desa-rumput-laut-pudding

Mencoba pudding hasil olahan rumput laut

Ketika kami tiba di daerah Saronggi dan dalam perjalanan menuju ke pantai, tempat para petani rumput laut berada, saya melihat kok dataran di daerah ini mirip seperti karang laut, ya? Jangan-jangan dulu di daerah sini sempat berada di bawah laut hehe, padahal area tempat kami stop untuk parkir bus lebih tinggi dari area pantai.

menduniakanmadura-madura-sumenep-saronggi-desa-rumput-laut-3

Seperti batu karang ya bentuknya, jangan – jangan … …

Pengalaman tinggal di pedesaan

Selama trip #MenduniakanMadura yang berlangsung 4 hari 3 malam itu, kami ga tidur di hotel berbintang lima. Kami selama 3 malam itu tinggal di rumah warga yang disewakan, kecuali pada malam kedua di Giliyang, kami tinggal di guest house 🙂

menduniakanmadura-madura-sampang-nepa-guest-house

Guest house di Pantai Nepa

Selama tidur dan menginap di rumah warga, kamar yang tersedia memang ga cukup untuk menampung semuanya. Jadi blogger perempuan tidur di kamar, dan yang laki tidur di luar. Bahkan kami ada yang tidur di teras dengan beralaskan karpet atau tikar. Untuk saya, baru pertama kali nih tidur di luar seperti ini, eh tapi kok fine-fine aja. Tinggal pakai autan, pakai tas atau kaos untuk dijadikan alas, trus tidur pulas haha. Ajaibnya saya bisa bangun sendiri sekitar jam 4 atau 5 pagi haha — padahal biasanya bangun di atas jam 8.

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-guest-house

Guest house di Giliyang

Wah kalau guest house-nya sedikit, berarti kamar mandinya antri dong, ya hehe. Terkadang antri, tapi seperti di Giliyang, terdapat beberapa tempat mandi umum yang bisa dipakai. Kemudian waktu di Desa Wisata Kwanyar, juga terdapat beberapa kamar mandi umum. Ada yang lucu ketika saya mau ambil air dari bak di kamar mandinya, kok saya melihat ada yang bergerak-gerak di dalam bak. Karena ga pake kaca mata dan pencahayannya kurang, jadi ga terlalu jelas. Pas saya coba mendekat, ealah ada ikan teryata hahaha. Ternyata kata Oom Halim, itu sudah menjadi hal yang biasa di pedesaan untuk menaruh ikan untuk berenang-renang di bak air hehe.

Kemudian untuk makanan bagaimana dong?

Apa yang biasanya menjadi makanan utama dari sebuah pulau? Ikaaann! Benar banget, salah satu lauk kami selama trip #MenduniakanMadura adalah ikan bakar yang ditambah topping sambal aneka rasa. Selain itu ada juga sayur daun kelor yang sepertinya baru saya rasakan saat ini. Dan yang unik satu lagi adalah siwalan. Pohon siwalan banyak tumbuh di Madura memang, dan buah siwalan ini bisa diolah menjadi gula merah. Walaupun warnanya berbeda, tapi rasanya sama kok dengan gula merah pada umumnya.

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-guest-house

Ikan bakar yang menjadi salah satu lauk selama trip #MenduniakanMadura

menduniakanmadura-madura-sayur-daun-kelor

Sayur daon kelor nih 🙂

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-siwalan-gula-merah

Gula merah dari buah siwalan

Eh iya, waktu kami di Desa Kwanyar, kami sempat diajak untuk melihat cara membuat kerupuk secara sangrai. Cara membuatnya unik, karena ga pake minyak, ga pake wajan, tapi pakai kuali yang didalamnya sudah dimasukkan pasir laut yang kemudian dipanaskan pakai api di bawah kualinya. Bukan sulap, bukan sihir, kerupuk mentah ketika dimasukkan ke dalam pasir dan diaduk-aduk, bisa mengembang menjadi kerupuk yang siap dimakan. Jangan pikir mudah ya tinggal diaduk-aduk, karena ternyata waktu ada yang mencoba mengaduk, rasanya berat!

menduniakanmadura-madura-sumenep-desa-wisata-kwanyar-kerupuk-sangrai-2

Kerupuk yang di sangrai menggunakan pasir air laut

See you next time, Madura!

Perjalanan 4 hari 3 malam sama sekali tidak cukup untuk melihat Madura secara keseluruhan. Itu saja kami hanya ‘mengitari’ bagian luar dari pulau Madura. Mudah-mudahan nanti ada trip #MenduniakanMadura2 – 3 – 4 – 5 dan seterusnya. Matur nuwun sanget ke Plat-M yang sudah organize semua ini, dan kepada BPWS yang juga sudah mendukung acara ini 🙂

Oh iya, ini ada beberapa koleksi foto lainnya dari trip #MenduniakanMadura ini:

menduniakanmadura-madura-di-bus-aldiansyah-plat-m

Ada yang lagi absensi, ada yang lagi selfie 😀

menduniakanmadura-madura-sumenep-pelabuhan-pasongsongan-ikan

Tempat Pelelangan Ikan di Pelabuhan Pasongsongan

menduniakanmadura-madura-sumenep-airport-trunojoyo

Landasan Airport Trunojoyo

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-pantai-ropet

Tempat sarapan di Pantai Ropet

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-pantai-ropet-makan-siang

Sarapan di dekat Pantai Ropet

menduniakanmadura-madura-sumenep-desa-wisata-kwanyar-suasana

Pagi berkabut di sekitar Desa Kwanyar

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-pantai-ropet

Pemberhentian di Indomaret atau Alfamart yang berarti 😀

menduniakanmadura-madura-ladang-garam

Ladang garam yang lagi kurang aktif di musim penghujan ini

menduniakanmadura-madura-bangkalan-tresna-art-rumah-madura-blogger

Di replika rumah tradisional Madura

menduniakanmadura-madura-bangkalan-tresna-art-blogger

Masih dari Tresna Art 🙂

Kalau kamu suka blog post  ‘Madura … Oh, Madura’, mohon di-share ke media sosialmu ya, siapa tau ada yang mau ikutan kegiatan #MenduniakanMadura berikutnya 🙂

FIND ME HERE
FACEBOOK | TWITTER | INSTAGRAM | GOOGLE+
email: mixedupalready@gmail.com
SNAPCHAT: timo_wp

menduniakanmadura-madura-sumenep-giliyang-gua-mahakarya-3

Ini Mbak Indah Juli lagi ngapain ya di dalem Goa Mahakarya (Madura)

Advertisements
Comments
  1. Posted by Hanif Insanwisata
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by Fajrin Herris
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by dian
    • Posted by Timothy W Pawiro
  4. Posted by Kang Pardi
    • Posted by Timothy W Pawiro
  5. Posted by Nasirullah Sitam
    • Posted by Timothy W Pawiro
  6. Posted by Nila
    • Posted by Timothy W Pawiro
  7. Posted by Halim
    • Posted by Timothy W Pawiro
  8. Posted by @kakdidik13
    • Posted by Timothy W Pawiro
  9. Posted by Mahdus Abrori
    • Posted by Timothy W Pawiro
  10. Posted by Molly
    • Posted by Timothy W Pawiro
  11. Posted by ndop
    • Posted by Timothy W Pawiro
  12. Posted by Maz echo
    • Posted by Timothy W Pawiro
  13. Posted by ALAM
    • Posted by Timothy W Pawiro
  14. Posted by Haris - ketimpringan.com
    • Posted by Timothy W Pawiro
  15. Posted by Aprie
    • Posted by Timothy W Pawiro
  16. Posted by Abd Rosyid
    • Posted by Timothy W Pawiro
  17. Posted by Lisa Maulida R
    • Posted by Timothy W Pawiro
  18. Posted by Zamsjourney
    • Posted by Timothy W Pawiro

Add Your Comment