Siapkah perusahaan konvensional menghadapi disrupsi digital di Indonesia?

Disrupsi digital di Indonesia – Kalau diomongin mengenai keadaan digital di Indonesia saat ini, sepertinya kebanyakan dari kita udah melekatkan dirinya secara digital, mulai dari media sosial, transportasi, bahkan yang berhubungan dengan dunia finance. Mau belanja-belanji barang, juga suka belinya di online shop daripada mesti belanja di mall.

Lalu apa yang terjadi pada banyak industri di sini, ketika digital di Indonesia udah mulai berkembang.

Sekilas tentang digital vortex

Kalau kita cek digital vortex yang di-share saat acara di Kafe BCA yang ke 7 di Menara BCA lantai 22, Jakarta, kita bisa lihat kalau ada banyak industri yang bisa terkena dampak (terdisrupsi) dengan adanya digital. Semakin ke tengah, berarti industri tersebut semakin mudah terdisrupsi.

digital vortex kafe bca 6

Industri apa aja yang akan terdisrupsi oleh keberadaan digital? (gambar Digital Vortex diambil dari Global Center for Digital Business Transformation)

Melihat dari digital vortex di atas, anggap lah itu sebuah angin puting beliung yang menyedot apa pun di sekitarnya ke arah tengah. Jadi kalau melawan, ya susah juga ya, apalagi yang posisinya dekat di tengah hehe. Makanya mau ga mau ya perusahaan konvensional harus embrace digital, dan mulai masuk ke ranah digital deh.

Kesiapan digital di Indonesia

Sebelum melihat kesiapan perusahaan konvensional di ranah digital, bagaimana kalau kita lihat dulu kesiapan Indonesia dalam hal digital.

Perkembangan konektivitas internet di Indonesia, so pasti udah banyak berubah dari dulu hingga sekarang. Jaman menggunakan modem dial-up udah bisa dibilang lewat. Sekarang jamannya pake internet cable, atau terhubung menggunakan koneksi 4G dari smartphone kita. Tapi mungkin ini hanya bisa terjadi di kota-kota besar. Kalau kita melihat Indonesia secara keseluruhan, sepertinya masih banyak yang harus diperhatikan dan diperbaiki, ya?

Kita bisa lihat bagaimana connecting capabilities Indonesia dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan data yang dibagikan Pak Faisal Basri di acara Kafe BCA 6, kita bisa lihat kalau Malaysia dan Singapura udah jauh di atas. Saya pernah tinggal di Singapura di sekitar tahun 2009 – 2010, dan waktu itu malah internetnya udah termasuk cepat lho. Pernah coba iseng download menggunakan salah satu internet provider di sana, dan udah bisa mencapai 1Mbps hehe. Cepet banget deh.

connecting capabilities index

Perbandingan connecting capabilities Indonesia dengan negara lain

Lalu kenapa kita bisa paling bawah, ya? Memang apa aja yang mempengaruhi connecting capabilities ya? Salah satunya masalah infrastruktur ICT (Information and Communications Technology). Ternyata menurut index perkembangan ICT di tahun 2016, Indonesia juga masih tertinggal. Nah, ini kita bisa liat dari data yang di-share oleh Pak Faisal Basri.

ict development index

ICT Development Index di tahun 2016

Walaupun menurut index ICT kita masih tertinggal dari negara tetangga, ternyata Indonesia malah menduduki peringkat ke-5 untuk pengguna internet terbesar di dunia pada tahun 2016. Malahan menurut menurut Pak Hermawan Thendean, yang merupakan Senior Executive VP of Strategic Information Technology dari bank BCA, ternyata baru 50% penduduk Indonesia yang memanfaatkan internet lho.

world internet user 2016 indonesia top 5

Indonesia masuk Top 5 pengguna internet terbesar di dunia lho!

Sepertinya, salah satu hal yang membantu penduduk Indonesia mengakses internet adalah dengan adanya smartphone. Sekarang smartphone semakin lama semakin terjangkau harganya. Dan pengguna smartphone di Indonesia saat ini udah ada sekitar 92 juta orang. Masih sekitar 1/3 dari jumlah penduduk kita sih, ya, tapi segitu mah udah banyak banget lah haha.

Rencana ke depannya, mau ada program pengembangan fiber optic nasional. Kalau saya baca di Tribunnews.com, targetnya di tahun 2019, akan ada sekitar 71% rumah di perkotaan yang terhubung dengan fiber optic internet dengan kecepatan sampai 20Mbps. Sementara kalau di desa, targetnya adalah 47% rumah terhubung oleh fiber optic internet dengan kecepatan sampai 10Mbps.

Embracing digital: Konvensional vs Startup

Kita percaya aja kalau kesiapan digital di Indonesia semakin lama akan semakin baik. Akan semakin banyak juga penduduk di Indonesia yang mulai mendapat akses ke ranah digital. Dan pastinya, semakin banyak orang yang menikmati digital experience ini.

Dulu kalau kita mau cari ojek terkadang susah, sekarang tinggal ambil smartphone dan pesan ojek online langsung dari smartphone. Saya juga pas beberapa waktu lalu mau beli smartphone, langsung buka salah satu e-commerce, tinggal browse sebentar, nemu yang saya mau, kemudian beli. Mau beli pulsa, tinggal beli aja di salah satu di e-commerce. Dan yang paling sering pastinya beli tiket pesawat, udah bisa online juga. Sekarang sebagian besar udah serba digital, ‘kan?

Dan seperti yang kita tau, hal-hal yang saya baru aja sebutkan, yang membuatnya merupakan startup. Para startup ini melihat peluang dengan berinovasi untuk memberikan solusi kepada masyarakat.

kafe bca 7 digital collaboration

Talkshow ringan tapi seru mengenai disrupsi digital di Indonesia. Ada yang mewakili startup (Rama Mamuaya – Dailysocial (kiri) dan Indra Wiralaksmana – Ninja Xpress (ke-2 dari kiri), ada yang mewakili perusahaan konvensional dari bank BCA (Hermawan Thendean – Senior Executive VP of Strategic Information Technology (kanan) dan Henry Koenaifi – Direktur BCA (ke-2 dari kanan), dan ada memberikan pemaparan tentang keadaan makro di Indonesia (Faisal Basri – pengamat ekonomi (tengah))

Tentunya startup beda dengan perusahaan konvensional.

Perusahaan konvensional seperti Bank BCA memang udah go digital ya dengan klikbca.com dan m-banking-nya, tapi kalau dibandingkan dengan startup yang bergerak di bidang financial technology, alias fintech, BCA belum bisa se-flexible mereka dalam bergerak. Seperti contohnya, kalau BCA mau melakukan perubahan atau penambahan pada fitur di m-banking, BCA mesti melakukan uji kelayakan dulu, cek keamanannya bagaimana, mesti minta ijin lah, dan sebagainya. Ini pastinya makan waktu, ya?

Kalau fintech tentu berbeda dengan bank BCA yang udah besar ini. Regulasi di area fintech, sepertinya belum sebanyak regulasi pada bank deh, jadi pergerakannya bisa lebih cepat. Kalau misalnya mereka menemukan ada yang salah pada salah satu app-nya, langsung cepat diperbaiki, dan di-update. Kalau misalnya ga bagus, ya udah, say goodbye terhadap produknya. Ya kira-kira se-flexible itu lah si fintech ini hehe.

Jadi, apa yang perusahaan-perusahaan konvensional harus lakukan dalam menghadapi disrupsi digital ini?

Daripada saling bersaing, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan berkolaborasi. Itulah yang dilakukan bank BCA. Bank BCA berkolaborasi dengan para startup fintech, salah satunya dalam bentuk open API (Application Program Interface). Jadi nanti para fintech atau e-commerce bisa terkoneksi dengan layanan perbankan BCA secara langsung, seperti contohnya transfer, pembayaran Sakuku, dan API lainnya, agar sesuai dengan kebutuhan dunia fintech saat ini.

Selain itu bank BCA juga udah menyiapkan sebuah kendaraan baru, bernama Central Capital Ventura (CCV). Nanti CCV berperan sebagai investor, yang bisa membantu para startup fintech menjalankan usahanya.

Tuh kan, lebih mesra bukan kalau bisnis konvensional berkolaborasi dengan yang digital, jadi bisa saling mengisi kekurangan masing-masing.

Indonesia Knowledge Forum 6

Bank BCA ternyata setiap tahunnya udah menggelar Indonesia Knowledge Forum (IKF), dan tahun ini merupakan gelaran yang ke 6. IKF 6 akan berlangsung pada tanggal 3 – 4 Oktober 2017 di Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta. Dan pada IKF 6 bertemakan ‘Elevating Creativity & Innovation Through Digital Collaboration.’

Kalau di atas, saya udah kasih contoh bank BCA yang memilih untuk berkolaborasi dalam menghadapi disrupsi digital di Indonesia, di IKF 6 akan ada banyak contoh-contoh lain yang bisa kita lihat tentang bagaimana bisnis di Indonesia menghadapi ‘serbuan’ digital ini. Misalnya aja di hari ke-2 pada IKF 6, ada Hans Prawira dari Sumber Alfaria Trijaya yang akan mengangkat topik ‘how to merge your offline and online business strategies’. Masih banyak lagi hal seru dan menarik yang bisa kita dapatkan selama 2 hari di IKF 6 ini. Kita bisa lihat dari agenda IKF 6 di bawah ini:

indonesia knowledge forum ikf 6 2017 day 1

Jadwal IKF 6 hari ke-1

indonesia knowledge forum ikf 6 2017 day 2

Jadwal IKF 6 hari ke-2

So, mau tau lebih banyak mengenai kolaborasi digital dalam menghadapi disrupsi digital di Indonesia, langsung aja deh daftar! Untuk info serta cara pendaftar IKF 6, kamu bisa langsung aja meluncur ke sini.

indonesia knowledge forum ikf 6 2017

Siap ga menghadapi disrupsi digital di Indonesia?

Advertisements
Comments
  1. Posted by Rizki Vadilla
    • Posted by Timothy W Pawiro
  2. Posted by Risalah Husna
    • Posted by Timothy W Pawiro
  3. Posted by Anesa Nisa
    • Posted by Timothy W Pawiro
  4. Posted by Ikrom
    • Posted by Timothy W Pawiro

Add Your Comment